Halaman

Sabtu, 16 November 2013

KRITIK EKONOMI POLITIK

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian VI - Kritik Ekonomi Politik


Bab enam ini membahas kritik dari beberapa tokoh terhadap kapitalisme: konsep ekonomi politik, konsep dasar basis dan suprastruktur, dan ide pokok ekonomi politik komunikasi.


KARL MARX


Cara produksi yang sedang berjalan dan kita alami sekarang adalah cara produksi kapitalis. Berbeda dengan cara produksi sebelumnya (feodal), kapitalisme tidak dijalankan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Marx membagi realitas kehidupan ke dalam dua bagian, yakni bisnis dan suprastruktur. Basis dianggap  sebagai bagian pokok yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.
Miliband mencoba mengamati kondisi kapitalisme modern saat ini, membagi kelas-kelas tersebut ke dalam tiga grup:


1.      Elite-berkuasa, yaitu segelintir orang yang memiliki kekuatan dalam mngendalikan industri, perusahaan finansial, maupun perdagangan raksasa.
2.      Kelompok profesional yang menopang elite-berkuasa karen akeahlian khusus mereka
3.      Kelas bawah, mereka yang menggantungkan hidup dari kerja upahan, petani, nelayan, maupun pengangguran.


Walaupun demikian, menurut Milliband, pada akhirnya kelas profesional pun akan terpecah ke dalam dua sudut: mereka yang menopang dominasi elite-berkuasa entah melalui politik, hukum, atau alat kekerasan lainnya; dan mereka yang menjadi pembela kelas bawah.


HORKHEIMER & ADORNO


Dalam Dialectic of Enlightenment, Hokheimer dan Adorno juga mengemukakankritiknya terhadap industri massa. Menurut mereka, budaya massa telah menciptakan standarisasi dan serangan komoditas secara besar-besaran. Sebagai sasaran budaya, masyarakat telah diarahkan untuk mengikuti standar-standar massa yang ditampilkan melalui iklan, film, gaya hidup, nilai-nilai, atau visi tentang dunia. Dari sinilah masyarakat kemudian melakukan peniruan (mimesis) terhadap hal-hal yang mereka lihat dalam media.Hokheimer & Adorno melihat perkembangan teknologi dan penguasaan ekonomi ini telah membawa manusia ke dalam persaingan untuk mempertahankan diri – adaptasi manusia dalam persaingan-persaingan kepentingan pribadi. 





Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.


IKLAN DAN TRANSFORMASI

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian V - Iklan dan Transformasi


Bab ke lima ini menjelaskan peran ilmu pengetahuan dalam praktek periklanan, berbagai perubahan yang terjadi di seputar praktek periklanan, perubahan pola konsumsi masyarakat, penyerapan nilai-nilai budaya dalam kepentingan ekonomi, serta dampak reformasi terhadap wajah pertelevisian di Indonesia.


KOLABORASI ILMU

Kita sering melihat berbagai iklan dengan cuplikan indah, warna-warni yang menarik, atau dengan gagasan-gagasan luar biasa yang terkadang tidak pernah terpikirkan oleh kita, hingga membuat mata terbelalak dan memori menyerapnya. Keahlian dalam menciptakan ‘karya seni iklan’ tidak bisa diperoleh tanpa dukungan ilmu pengetahuan.Iklan bukan hanya sekedar tayangan iklan komersial, iklan merupakan perpaduan atau kolaborasi dari berbagai ilmu yang tampil menjadi sebuah karya kreatif. Paling tidak ada beberapa ilmu yang menopang iklan seperti, sosiologi, psikologi dan komunikasi.

Dalam ilmu sosiologi, ada kajian yang paling berguna di periklanan, salah satunya adalah demografi sosial. Bagi seorang marketer/advertiser, demografi sangat penting untuk menentukan suatu produk yang hendak dipasarkan. Produk akan dianalisis terlebih dahulu seperti, siapa sasaran konsumen? Berapa harga yang akan ditetapkan? Bagaimana cara pemasarannya? Dimana lokasi penjualannya? Melalui analisis demografi, produsen memiliki informasi yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan menyangkut produknya. Karena itu, sukses atau tidaknya sebuah iklan bisa dianalisis dari seberapa serius para pembuat iklan memandang demografi masyarakat. Misalnya, iklan produk minuman ringan yang mengambil latar kehidupan perkotaan barangkali tidak akan berdampak signifikan bagi konsumen yang berada di pedesaan.
Indikator kelas sosial juga berguna bagi praktek periklanan karena tidak jarang perilaku seseorang dalam mengonsumsi sesuatu sangat dipengaruhi oleh posisi mereka di dalam masyarakat atau pergaulannya. Penjual atau pengiklan bisa menentukan produk mereka sesuai dengan class-based market segments, ditambah dengan informasi mengenai penghasilan mereka. 

Selanjutnya dalam kajian Psikologi, yang berperan penting dalam periklanan adalah persuasi dan life-style. Dalam periklanan, persuasi digunakan dengan cara yang berbeda-beda. Salah satu bentuk persuasi adalah presenter. Persuasi adalah bentuk persuasi dengan cara menyampaikan testimoni dan menjelaskan kegunaan dari sebuah produk. Sedangkan demonstration adalah bentuk persuasi periklanan yang menampilkan uji coba atau bukti-bukti seperti gambaran “lantai menjadi lebih bersih”, “gigi menjadi lebih kuat”. Sementara yang disebut scile of life adalah persuasi iklan dengan cara menghubungkan sebuah produk dengan kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan nyata, dengan kata lain merek sebuah produk muncul secara alamiah setiap harinya. Seperti iklan produk (kopi,susu,teh) dalam tayangannya menampilkan aktivitas khas yang biasa dilakukan pada pagi hari.

Kategori life-style (studi tentang kepribadian)  sangat berguna bagi periklanan. Nilai dan segmentasi gaya hidup sebagai sebuah perilaku yang memengaruhi seseorang dalam mengonsumsi produk. Kecenderungan seseorang mengonsumsi produk sangat variatif. Ada yang mengonsumsi karena merek, kepopuleran produk, produk dianggap paling unggul, atau karena loyalitas.

Ketika kita berbicara tentang sasaran konsumen, secara ontologis konsumen pada dasarnya bersifat massa, heterogen, tidak saling mengenal, dan tersebar dimana-mana. Komunikasi massa memberikan perspektif tentang bagaimana iklan harus dibuat sebagai bentuk pesan yang sifatnya massal. Dengan ilmu komunikasi, pesan periklanan diolah melalui berbagai pertimbangan. Apakah pesan itu akan dikemas secara langsung atau tidak, disampaikan melalui bahasa verbal atau non verbal, ditransmisikan melalui media cetak atau elektronik, serta disampaikan kepada komunikan mana yang menjadi konsumennya.
Melalui dukungan ilmu pengetahuan, iklan telah mengalami transformasi dalam berbagai segi, baik sebuah strategi pemasaran maupun sebagai sebuah kajian keilmuan.

POLA KONSUMSI

Sebagai sebuah tempat pemasaran massa, pusat perbelanjaan memperlihatkan pola konsumsi masyarakat yang mengalami transformasi dari waktu ke waktu. Sebelum munculnya konsep mall atau departement store, pasar tradisional merupakan sebuah tempat berbelanja dengan desain sederhana dan tujuan yang sederhana pula. Munculnya konsep mall, aktivitas berbelanja tidak diposisikan sebagai pola pemenuhan kebutuhan melainkan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun konsep mall dengan segala yang mereka tawarkanpada akhirnya mengalami kejenuhan. Ruang-ruang belanja yang tertutup seperti mall kini mulai digantikan dengan ruang terbuka hijau atau lebih dikenal dengan sebutan city walk.
Pola konsumsi yang berubah juga terjadi di setiap mini market. Seperti circle K, indomaret yang berlomba-lomba menjadikan tempat mereka sebagai rumah kedua yang menyenangkan. Mereka menyediakan meja dan kursi untuk bersantai bagi konsumennya, siapa lagi kalau bukan remaja sasarannya.
Saat ini transformasi lain dari konsumsi dan periklanan juga terjadi beriringan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Seoran individu bisa mendapatkan barang yang ia inginkan dengan menggunakan layanan akses cepatseperti, tokobagus.com, berniaga.com, atau kaskus.com.

INKORPORASI BUDAYA

Secara harfiah, inkorporasi berarti menyatukan, menggabungkan atau menjadi satu. Makna inkorporasi merujuk pada suatu proses sosial kelas dominan yang mengambil elemen-elemen kebudayaan kelas subordinat dan menggunakannya untuk memperkuat status quo. Contoh, aktivitas graffiti atau coretan dinding. Dalam wacana subkultur, graffiti dipandang sebagai bentuk kritik, sindiran terhadap kekuasaan yang digores ke tembok-tembok jalanan, akhirnya graffiti dipandang sebagai  kegiatan seni tanpa esensi perlawanan. Sejalanan dengan musik, mode pakaian, atau tren populer. Iklan menjadi wahana transformasi bagi berbagai aspek budaya yang ada. Lambat laun periklanan tidak hanya sebagai media promosi sebuah produk, lebih dari itu, iklan difungsikan sebagai media konstruksi budaya melalui gambar-gambar yang mereka tampilkan. Inkorporasi budaya dalam iklan kemudian tidak lepas dari proses komodifikasi dengan memanfaatkan aspek budaya itu sendiri.

DARI PANOPTIK MENUJU HIPNOTIK

Pada masa orde baru, paling tidak terdapat dua wacana yang berkaitan dengan status informasi:
1.      Informasi dijadikan alat pemerintah untuk memetakan kelompok mana yang sejalan dengan visi kekuasaan dan kelompok mana yang memiliki jalan berbeda.
2.      Informasi yang benar menjadi barang mahal karena saluran media sangat terbatas. Masyarakat umum menjadikan televisi sebagai media utama dalam memperoleh informasi, namun tidak tahu pasti apakah informasi yang mereka terima benar atau tidak.
Sekarang tidak ada lagi cerita tentang keterbatasan informasi, yang ada adalah pembudakan. Citra media sebagai alat panoptik juga berubah menjadi alat hipnotik. Sensor tidak lagi dalam bentuk kasar seperti melarang publikasi, memotong berita, mengganti dengan bahasa yang lebih halus, tetapi sensor justru terjadi dalam berlimpahnya berita.
Sistem kormesial yang telah diterapkan, mau tidak mau sumber keuangan media massa harus bertumpu pada seberapa banyak iklan yang masuk ke kantong media tersebut. Disinilah berbagai komodifikasi diterapkan. Ragam berita, film, musik, kuis, sinetron, ajang pencarian bakat atau infotaiment, menghipnotis masyarakat menuju budaya baru yang biasa disebut budaya populer.







Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.


Strategi Periklanan

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian IV - Strategi Periklanan

Bab keempat ini memaparkan berbagai macam strategi yang dilakukan iklan, aspek emosional yang dimainkan dalm iklan, strategi budaya yang dilakukan dalam periklanan, dan fungsi iklan dalam membentuk produk unggulan.


PSIKOLOGI HARAPAN

Rasa tidak puas atas pencapaian, dorongan hidup agar lebih baik, atau tantangan untuk terus melakukan inovasi menjadi semacam kekuatan penggerak bagi segala bentuk perkembangan. Harapan tumbuh menjadi kebutuhan manusia agar dapat tetap bertahan dalam setiap segi kehidupan. Ekonomi misalnya, dibangun atas harapan meningkatkan kesejahteraan dimana setiap orang bisa mencapai keuntungan sebesar-besarnya dalam putaran produksi maupun dalam persaingan pasar. Begitu penting dan emosionalnya sehingga tidak satu pun manusia bisa mengelaknya. Iklan adalah representasi dari segudang pengalaman emosional yang pernah manusia alami yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pesan yang tervisualisasi. Coba kita perhatikan berapa banyak iklan yang mencoba memberikan harapan kepada kita; harapan akan kebahagiaan, kebanggan maupun kepuasan dikemas dengan berbagai tampilan yang menarik. Karena periklanan ini berjalan setiap hari, setiap orang yang menyaksikannya secara tidak sadar menyerap semua bentuk harapan itu ke dalm memorinya dan akhirnya menjadi dorongan awal dari seluruh keingin yang akan datang.

Gambaran harapan yang ditawarkan iklan sangat erat kaitannya dengan perilaku dan motivasi seseorang, motivasi itu kemudian diterjemahkan dalam aktivitas konsumsi. Sebagaimana yang disampaikan Matin Khan dalam Consumer Behavior and Advertising Management, perilaku konsumen dalam mengkonsumsi prosuk lebih didorong oleh motivasi laten yang kadang tidak disadari. Menurutnya konsumen ‘tidak membeli’ produk, Mereka pada dasarnya membeli sebuah motif pemenuhan atau solusi dari sebuah permasalahan. Misalnya, seseorang tidak membeli sofa, tetapi membeli kenyamanan; atau sesorang pada dasarnya tidak membeli kosmetik; tetapi membeli sebuah harapan untuk cantik atau tampan.
Beberapa indikator yang bisa kita jadikan sebagai gambaran dimana sebuah iklan dapat sukses, diantaranya:

1.      Berisi sebuah pencapaian atau pemenuhan harapan
2.      Dikemas dengan mengikutsertaan kelas sosial dari golongan tertentu yang biasanya diwakili seorang artis
3.      Memiliki slogan yang sederhana; namun menarik dan mudah diingat
4.      Melibatkan emosi seperti kebanggaan, persahabatan, atau kesetiaan
Praktek yang dilakukan pembuat iklan adalah pencarian informasi tentang:
1.      Motif untuk membeli
2.      Bagaimana memformulasikan strategi untuk memenuhi motif-motif tersebut
3.      Bagaimana mereduksi konflik diantara berbagai konflik di antara berbagai motif

Ketika strategi ini sudah ditemukan, upaya selanjutnya adalah bagaimana menjawab harapan yang ada dalam diri konsumen, lalu kemudian iklan berusaha mewujudkannya, juga menjawab konflik laten tersebut dari tidak menjadi ya.

IMING-IMING HADIAH

Agar output dari kegiatan industri berjalan dengan baik dan tidak terjadi ketimpangan, mau tidak mau harus ada alat yang bisa merespons semua output tersebut. Dalam kondisi inilah, iklan ditempatkan sebagai alat respons terhadap output industri dengan jalan mendorong peningkatan jumlah konsumsi. Bayangkan, jika sebuah produk diciptakan dengan jumlah yang sangat melimpah, namun pembeli atau konsumsi minim, apa yang akan terjadi? Paling tidak akan menyebabkan, pertama over production, yakni suatu kondisi yang menggambarkan krisis dalam putaran produksi dan konsumsi yang diakibatkan daya beli masyarakat rendah. Kedua gulung tikar, bagi perusahaan yang tidak bisa mengatasi krisis tersebut. Dalam mengahadapi situasi ini, periklanan sangat dibutuhkan.

Bagi sebagian perusahaan, beberapa cara mungkin telah dilakukan seperti pemotongan harga dengan berbagai macam kampanye, seperti buy one get free one atau potongan harga 40% All item. Selain itu, metode promosi dalam bentuk sponsorship dan pelayan terpadu juga dilakukan. Dari sekian banyak pemasaran, iming-iming hadiah juga masih dilakukan dengan harapan dapat mendongkrak tingkat konsumsi masyarakat terhadap sebuah produk.
Dari berbagai media massa , paling tidak ada beberapa jenis hadiah yang melibatkan sekian banyak segi emosional masyarakat, diantaranya:

Kesenangan, bisa kita kategorikan sebagai suatu kondisi emosional yang diakibatkan oleh faktor-faktor di luar diri manusia. Iklan biasanya menyentuh sisi kesenangan dengan memberikan hadiah dalam bentuk barang ataupun uang. Kebanggaan, segi emosional yang muncul karena pencapaian terhadap suatu keinginan.Hadiah yang ditawarkan iklan tidak lain berupa kesempatan seseorang, misalnya kesempatan menjadi bintang iklan, artis dsb. Kebahagiaan, sisi emosional seseorang yang dianggap melekat pada atau tidak dapat dipisahkan dari dirinya. Hadiah yang ditawarkan iklan dengan sentuhan emosional kebahagiaan biasanya seperti hadiah paket haji dan umroh, paket liburan dsb.

PENDEKATAN BUDAYA

Keberhasilan iklan dalam memasarkan sebuah produk bukan hanya karena iklan bisa menawarkan sejumlah harapan dan hadiah, strategi lain yang dilakukan dalam praktek periklanan adalah menampilkan sebuah representasi dari nilai-nilai budaya di mana masyarakat itu berada. Pendekatan budaya membuat sebuah produk semakin dekat dengan masyarakat dengan cara mengikutsertakan simbol-simbol sebagai representasi dari identitas masyarakat setempat. Misalnya, dalam masyarakat Indonesia mayoritas muslim , “cap halal” menjadi bagian yang sangat penting untuk dicantumkan dalam setiap kemasan produk yang akan dipasarkan.
Perayaan hari besar atau hari raya keagamaan juga menjadi salah satuarena periklanan bekerja. Sebuah momen di mana keyakinan menjadi dasar utama, mendorong masyarakat sedapat mungkin bisa membuat hari itu lebih spesial dibanding hari-hari lain. Karena periklanan menjadi senjata utama dalam perang perebutan pasar, setiap negara memberlakukan aturan yang mengontrol peperangan agar tidak menimbulkan korban, baik budaya, religi, maupun norma yang berlaku dalam maryarakat.
Di negara-negara lain seperti Arab Saudi dan Iran, peraturan dibuat lebih ketat, yakni melarang perempuan tampil dalam bentuk iklan apa pun. Sedangkan Malaysia, perempuan boleh tampil sebagai bintang iklan. Karena norma, ideologi masyarakat dipandang sangat penting sebagai sebuah strategi periklanan, pengetahuan para kreator iklan tentang budaya menjadi modal utama.

PRODUK SUPERLATIF

Apa yang harus dilakukan jika sebuah produk sudah dikenal masyarakat?Apakah masih perlu pemanfaatan iklan?Jawabannya tidak. Iklan akan selalu dibutuhkan dalam setiap usaha pengusaan pasar. Faktanya ada beberapa produk yang sudah berhasil menjadi merek terkemuka dan menguasai pasar, namun tetap memanfaatkan keberadaan iklan. Tujuannya tidak lain untuk menjadikan merek dagang mereka sebagai produk yang paling unggul atau dengan istilah lain sebagai produk superlatif.
Misalnya seseorang ketika membeli air kemasan pasti menyebut Aqua, tetapi penjualnya membeli merek lain. Untuk menjadikan produknya sebagai unggulan (TOP OF MIND) memerlukan waktu yang sangat lama, iklan pun harus menampilkan diri dalam tingkat frekuensi yang sangat tinggi atau sesering mungkin.
*iklan luar ruang, reklame, tembok, billiboard*
Contoh kasus dalam produk superlatif:

Di Indonesia, ketika peraturan sekolah mewajibkan setiap siswa menggunakan sepatu berwarna hitam, merek sepatu Warrior menjadi produk yang ‘tanpa saingan’ sangat lama. Anak SD sampai SMA menggunakan merek sepatu tersebut.Kesuksesan Warrior sebagai produk superlatif pada akhirnya menjadikan merek dagang itu sebagai influencer bagi merek lain. Jenis sepatu sekolah kemudian muncul dalam berbagai merek, seperti All star, New Balance, New Era, Logo atau Bata, tentunya dengan maksud mengambil bagian keuntungan dari peraturan sekolah yang diterapkan.





Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

JENIS - JENIS IKLAN - DASAR-DASAR PERIKLANAN

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian III - Jenis-Jenis Iklan



Bab ketiga ini berisi tentang ragam media yang digunakan dalam kegiatan periklanan,pengemasan pesan atau informasi yang ingin disampaikan, relevansi tujuan produk dengan penentuan sasaran iklan.


JENIS IKLAN BERDASARKAN MEDIA
Kini, media pemasangan iklan tidak sebatas di dua media besar (elektronik dan cetak), tetapi juga sudah masuk ke dalam media-media lain, seperti internet dan telepon selular (SMS). Secara garis besar, media iklan dibagi ke dalam dua ragam:

1.      Media cetak, dalam hal ini surat kabar, majalah, brosur, papan iklan atau billiboard
2.      Media elektronik, seperti radio, televisi, film.
Berdasarkan media penyampaiannya secara lebih spesifik iklan dibagi ke dalam 5 ragam iklan:

·         IKLAN TELEVISI adalah iklan yang menggunakan seluruh alat serta unsur dalam kegiatan komunikasi dan disampaikan dalam bentuk audio-visual. Ruang eksplorasi iklan televisi sangat besar, hampir semua unsur, baik verbal maupun non verbal, mendapat ruang dalam kreasi iklan televisi.

·         SURAT KABAR dan MAJALAH merupakan media cetak yang bisa kita kategorikan sebagai kumpulan berbagai media informasi yang dibuat (diproduksi) serta disampaikan kepada khalayak sasaran (pembaca) melalui tulisan (cetakan) dan seringkali disertai gambar sehingga dapat dilihat juga. Selain ragam media cetak iklan juga terdapat majalah khusus iklan yang berbeda-beda penyebutannya. Ada yang menyebut leaflet, brosur iklan,media promo dll.

·         IKLAN RADIO, yang menjadi kekuatan adalah bagaimana pesan iklan tersebut dapat sampai ke telinga pendengar dengan baik. Seorang scriptwriter iklan radio harus memiliki kemampuan imajinasi yang lebih agar script iklan yang ia buat tampak begitu hidup, baik dari pemilihan setting tempat, karakter suara, gaya lisan, maupun pemilihan sound effect (SFX).

·         INTERNET merupakan gabungan dari komunikasi, media dan informatika yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi dengan jumlah tidak terbatas. Sebagai media global, internet tidak hanya dapat menyajikan informasi tetapi juga dapat menjadi ruang interaksi sosial bagi masyarakat. Jika dalam media cetak dan elektronik ukuran audiens dilihat dari banyaknya pembaca, penonton maupun pendengar, dalam internet audiens diukur dari seberapa banyak jumlah pengunjung ke situs yang disediakan.

·         IKLAN SMS adalah iklan yang memberikan informasi tentang berbagai hal dari operator kepada pelanggan atau pengguna jaringan telepon. Jenis atau isi pesan yang ditawarkan sangat beragam mulai dari layanan tarif murah, bonus telepon dan SMS, download lagu, RBT, lowongan kerja, hingga pesan-pesan komersial yang menawarkan produk-produk tertentu.


JENIS IKLAN BERDASARKAN ISI PESAN

1.      Iklan komersial
2.      Iklan layanan masyarakat
3.      Iklan politik
Iklan komersial adalah Iklan yang bertujuan mendukung kampanye suatu produk atau jasa. Tujuannya yakni sebagai media pemasaran produk hampir sebagian besar iklan yang dimuat di berbagai media adalah iklan kegiatan promosi, baik untuk memperkenal sebuah produk, mendorong untuk membeli, meningkatkan konsumen, maupun menanamkan loyalitas konsumen terhadap sebuah produk.
Iklan layanan masyarakat merupakan iklan nonkomersial dengan maksud mengajak, mendidik, mengarahkan atau menghimbau masyarakat sebagai warga negara maupun warga dunia. Komunikan dalam iklan layanan masyarakat biasanya lembaga-lembaga pemerintah atau lembaga swadaya.
Iklan politik bisa disebuat juga media kampanye yang bertujuan untuk kepentingan partai politik. Tujuan dari iklan politik sangat beragam, mulai dari memperkenalkan partai baru, membangun citra partai, memperkenalkan program kerja partai, hingga memenangkan pemilu. Di Indonesia, iklan politik lazimnya ramai dilakukan saat berlangsung kampanye terbuka dalam pilkada maupun pilpres.


JENIS IKLAN BERDASARKAN SASARAN
Setiap produk atau jasa yang dibuat memiliki segmentasi konsumen yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang menentukan variasi sasaran iklan berdasarkan siapa konsumen yang sebenarnya. Sasaran iklan diantaranya, orang tua (rumah tangga), dewasa, remaja dan anak-anak. Sasaran ini pada akhirnya akan berpengaruh terhadap isi pesan iklan serta ragam media yang dipilih.
Di dalam keluarga, seorang ayah, ibu, atau anggota keluarga lainnya, memiliki pengaruh dalam perilaku konsumsi. Mereka memiliki motif  dan kepercayaan masing-masing berkaitan dengan suatu produk yang akan dikonsumsi. Begitu pula dengan sasarn orang dewasa, pesan dan tujuan konsumsi produk iklan tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan orang dewasa. Sementara itu, iklan remaja merupakan iklan yang sasaran produk dan jasanya ditujukan bagi remaja. Dalam usia yang sedang berkembang ini, remaja memiliki gejala psikologis yang khas sehingga pesan iklan pun dikemas agar dapat merepresentasikan kondisi psikologis mereka. Anak-anak sebagai salah satu konsumen, juga tidak lepas dari sasaran iklan produk dan jasa. Selain sebagai konsumen, mereka dijadikan sebagai aktor dalam periklanan, karena itu keberadaan anak dalam dunia periklanan sangat diperhatikan, diantaranya:
1.      Iklan tidak boleh menggunakan model anak-anak untuk produk yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak
2.      Iklan tidak boleh memperlihatkan anak-anak dalam adegan yang berbahaya, menyesatkan atau tidak pantas dilakukan oleh anak-anak
3.      Iklan tidak boleh menampilkan anak-anak sebagai penganjur penggunaan suatu produk yang bukanuntuk anak-anak
4.      Iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengekploitasi daya rengek (pester power) anak-anak dengan maksud memaksa para orang tua untuk mengabulkan permintaan anak-anak mereka akan produk terkait.






Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Kamis, 07 November 2013

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian II - Segitiga Konglomerasi
 


Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah menempatkan bisnis periklanan sebagai sumber ekonomi yang berlimpah. Konglomerasi pun tumbuh dengan trias ekonomika yang merajai; korporasi multinasional, agen periklanan, dan media massa.
Bab kedua ini, berisi tentang konsep segitiga konglomerasi sebagai pola bisnis yang terbentuk di dalam perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, kebangkitan pasar dalam mendorong tumbuhnya korporasi, sistem ekonomi yang mendukung kepentingan korporasi, sistem kerja yang dijalankan agen periklanan, dan upaya penguasaan dalam bisnis media massa.

KORPORASI MULTINASIONAL

Jika Anda membeli sebuah produk lalu mengamati kemasannya, Anda akan menemukan nama korporasi multinasional di dalamnya. Sebut saja Unilever, korporasi yang produknya lekat denga kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia. Nama lain yang sudah tidak asing di sebagian telingan masyarakat seperti Nestle, Coca-Cola, Nike dll. Kekuatan besar korporasi multinasional sebenarnya muncul sejalan dengan globalisasi dan suatu kondisi yang disebut dengan istilah 'kebangkitan pasar'. Menurut Mikhael Dua dalam bukunya Filsafat Ekonomi, kebangkitan pasar disebabkan oleh beberapa faktor:
  1. Runtuhnya Uni Soviet, yang secara ideologi memiliki pandangan berbeda dengan Barat (khususnya Amerika), baik dalam bidang politik maupun ekonomi.
  2. Bangkitnya sebuah peradaban baru yang ditentukan oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.
  3. Menjamurnya gerakan humanisme akibat ketidakadilan sosial. Ketika sebuah negara tidak bisa memberikan jaminan keamanan dan keadilan kepada masyarakatnya, seluruh kekecewaan masyarakat akan ditumpahkan kepada negara. Di sinilah paham laissez faire (paham yang identik dengan ajaran liberalisme dan pasar bebas) mengambil alih peran negara dalam kevakumannya.
 Nama-nama korporasi multinasional dan produk-produknya menjadi sangat familliar di masyarakat karena media massa membuka jalan bagi mereka untuk menabur iklan. Oleh sebab itu, sistem ekonomi yang ditopang teknologi komunikasi dan informasi ini akan membentuk korporasi multinasional, agen periklanan, dan media menjadi organisasi besar dengan modal segunung dan keuntungan berlipat-lipat. Inilah yang bisa kita sebut sebagai segitiga konglomerasi. Melalui peningkatan teknologi komunikasi dan informasi, korporasi dan agen periklanan membangun citra atas sebuah produk. Kegiatan perdagangan dan promosi bisa dikontrol dengan teknologi informasi meski jaraknya sangat jauh, transaksi juga dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui penggunaan Internet banking atau kartu debet yang praktis. Korporasi juga bisa mengambil langkah-langkah strategis melalui data informasi ketika mereka akan melakukan ekspansi pasar untuk meningkatkan jumlah konsumen.

AGEN PERIKLANAN

Etika PAriwara Indonesia (Tata Krama dan Tata Cara Priklanan Indonesia) yang dikeluarkan Dewan Perwakilan Indonesia (2007) menyebutkan bahwa agen atau perusahaan periklanan merupakan suatu organisasi usaha yang memiliki keahlian untuk merancang, mengoordinasi, mengelola, dan atau memajukan merek, pesan, dan atau media komunikasi pemasaran untuk dan atas nama pengiklan dengan memperoleh imbalan atas layanannya tersebut.

Kekuatan iklan sebagai salah satu budaya dominan tidak lepas dari keberadaan agen periklanan. Mereka adalah pionir, garis depan, atau panglima yang diperlukan dalam memenangkan perang di dalam arena ekonomi serta dalam era komunikasi dan informasi. Karena itu agen periklanan tumbuh menjadi sektor bisnis yang sangat menggiurkan juga menjadi sebuah organisasi konglomerasi.
Mereka memiliki sistem yang beragam, sebagaimana yang disampaikan Turow (2009: 600-603) dengan dimensi-dimensi kerja agen periklanan dibawah ini:
  1.  Business-to-business agencies us consumer agency
  2. General agencies us speciality agency
  3. Traditional agency us direct-marketing agencies
  4. Agency networks us stand-alone firms
Business-to-business agencies merupakan cara kerja agen periklanan denga mengampanyekan produk perusahaan kepada perusahaan lain, misalnya sebuah perusahaan pembuat kancing memakai jasa agen periklanan supaya perusahaan kemeja mau bekerja sama dengan perusahaan tersebut.Ini merupakan bentuk perang perdagangan antar perusahaan dan sasarannya bukan konsumen sebagaimana yang menjadi target consumer agency. Ini merupakan strategi yang jitu untuk menjatuhkan lawan main dalam persaingan bisnis. Dalam praktek nya, kegiatan ini sangat membutuhkan keahlian negosiasi dan persuasi bagi agen periklanan untuk dapat menumbuhkan kepercayaan di hadapan perusahaan lain.

Untuk kemudahan dalam praktek kerja agen periklanan terbagi dua: general agencies dan speciality agency. General agencies yaitu agen periklanan yang menerima seluruh pesanan iklan dari berbagai jenis produk atau jasa apapun. Kalau speciality agency hanya mau menerima pembuatan iklan produk tertentu. Sedangkan berdasarkan cara pemasarannya, agen periklanan dibagi menjadi traditional agency dan direct-marketing agencies. Traditional agency aalah praktek agen periklanan yang hanya sebatas pembuatan iklan untuk kemudian bisa tampil di media massa agar dapat mendorong konsumen membeli produk yang diiklankan. Kalau direct-marketing agencies, mereka tidak hanya sebatas jasa pembuat iklan, tetapi juga jasa pengelolaan kotak suara konsumen, kontak telepon pemasaran, TV komersial, serta upaya-upaya lain yang bisa mendorong konsumen untuk membeli barang yang diiklankan pada saat itu secara langsung.

Ada agen periklanan yang hanya memiliki satu kantor di satu kota disebut stand-alone firms, ada juga agen periklanan yang memiliki jaringan sangat luas dengan kantor cabang di berbagai kota dan negara disebut agency networks system. Agency networks inilah yang berpeluang mengembangkan agen periklanan menjadi sebuah konglomerasi seperti beberapa agen periklanan multinasional.
Hasil kerja agen periklanan adalah informasi. Untuk mentransmisikan informasi tersebut, agen periklanan melakukannya dengan dua cara:
  1. memasang iklan di media massa seperti televisi, koran, majalah atau radio
  2. menjual langsung kepada konsumen dengan sales promotion girl sebagai salah satu prajurit mereka
Meskipun korporasi atau perusahaan-perusahaan memiliki divisi pemasaran dalam struktur organisasinya, direct marketing agencies sebagaimana yang disebut Turow, masih menjadi pilihan ketika divisi itu tidak saggup menangani tuntutan target penjualan yang sangat tinggi.





Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Senin, 04 November 2013

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian I - Konsep Periklanan - Sejarah Periklanan

Bab ini memaparkan sejarah periklanan di beberapa negara: Inggris, Prancis, Amerika, dan Indonesia; situasi sosial yang mendorong terbentuknya periklanan; peranan revolusi industri dalam memacu roda perekonomian; keterkaitan antara perekonomian, gaya hidup dengan periklanan; dan keberadaan pers dalam mendukung kegiatan periklanan.

INGGRIS
Membicarakan sejarah periklanan di Inggris tidak akan lepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di sana. Keberadaan newssheet sebagai cikal bakal surat kabar di dunia juga tidak lepas dari revolusi industri, terutama revolusi percetakan. Newssheet pada saat itu sangat dibutuhkan kalangan saudagar sebagai pendukung aktivitas ekonomi mereka. Namun dalam perkembangannya, dijadikan sebagai sarana untuk mencari uang.

Pada awalnya istilah advertising sendiri pada awalnya bukan kegiatan penjualan produk/jasa seperti sekarang. Dahulu, kegiatan jurnalistik yang dikelola saudagar berfokus pada informasi yang berkenaan dengan perdagangan dan perekonomian. Informasi-informasi seperti perang, bencana, maupun kegiatan lain dianggap sebagai advertising. Artinya advertising memiliki makna hampir sama dengan selingan.

Namun dalam perkembangannya, istilah advertising kemudian berubah menjadi kegiatan periklanan seperti yang kita kenal sekarang. Ia berguma bukan hanya untuk menjual produk atau jasa, melainkan juga untuk membiayai kelangsungan pengelolaan pers.




PRANCIS
Pada umumnya mereka mengetahui bahwa negara yang terletak di Benua Eropa ini memiliki tradisi mode yang sangat maju. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya industri garment (pakaian), perhiasan, maupun kerajinan saat itu. Bisnis periklanan di Prancis pada 1820 pertama kali dikenal dengan sebutan reclame, yang merupakan fenomena dari perkembangan kapitalisme. Pada saat itu, keberadaan periklanan di Prancis masih dianggap hal yang aneh karena kegiatan bisnis secara luas masih dijalankan secara langsung (face to face). Cara penjualan seperti itu semakin lama semakin ditinggalkan.  Selain tidak memberikan bayak pilihan, cara tersebut dirasa kurang efektif karena tidak dapat menjual barang secara banyak dan cepat.

Kemudian muncul sistem perdagangan Self Service, yang memberikan kenyamanan bagi konsumen pada lain sisi membuat konsumen merasa awam dengan barang yang begitu banyak (contoh:supermarket). Oleh karena itu, periklanan menjadi sumber informasi utama sebagai referensi awal bagis etiap konsumen, dan keberadaannya pun makin lama makin dibutuhkan. Persaingan antarkorporasi periklanan berjalan cukup ketat. 


AMERIKA
Periklanan mulanya dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu menggunakan kertas selembar (pamflet) yang ditempel di setiap ruang kota. Perkembangan periklanan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan dunia pers. Oleh karena itu, iklan dalam bentuk media cetak menjadi bentuk periklanan tertua yang pernah ada. Sekitar tahun 1940-an adalah masa dimana iklan sudah masuk televisi komersial. Sama halnya dengan yang dilakukan radio, periklanan televisi pada awalnya muncul dalam bentuk program. Sejak kemunculan agen periklanan di Amerika, merek dagang, jingle maupun seni periklanan mulai diperkenalkan. Dampak dari kemunculan agen periklanan ini adalah persaingan usaha yang semakin besar serta pertumbuhan pasar yang disertai dengan berbagai kemunculan merek dagang. 

Pada lain sisi, pertumbuhan agen periklanan tidak jauh berbeda dengan perusahaan-perusahaan itu sendiri. Di dalam kapitalisme, baik perusahaan maupun agen periklanan, semua bangkit menjadi konglomerasi. 

INDONESIA
Sejak runtuhnya rezim orde baru, pertelevisian di Indonesia semakin lama semakin meningkat dan jumlah stasiun televisi swasta pun terus bertambah. Pada masa orde baru saluran informasi hanya dipegang oleh TVRI sehingga pemenuhan informasi bagi masyarakat, terlebih lagi informasi mengenai kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat sangat terbatas. Waktu itu iklan belum menjadi bagian yang sangat dominan dalam pertelevisian di Indonesia. Iklan hanya tersedia di media cetak, radio, dan di ruang terbuka seperti billboard maupun spanduk.

Sejarah periklanan di setiap negaratidak akan lepas dari sejarah kemunculan media massa yang menjadi salurannya. Hal ini berlaku pula di Indonesia di mana media massaterutama surat kabar baru muncul sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19. Selain itu kondisi sosial, ekonomi, politik bagi perkembangan periklanan di Indonesia semakin lama semakin membaik, hingga memasuki masa Orde Baru terutama ketika pemerintah menerapkan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Meski dalam keadaan ekonomi yang masih merangkak, dua undang-undang ini dimaksudkan untuk mendorong perputaran dan persaingan roda ekonomi di Indonesia. Alhasil, berbagai korporasi multinasional pun mulai masuk ke Indonesia dan menjadi pemicu bagi meningkatnya kebutuhan akan periklanan. Dari sana, muncul pula perusahaan-perusahaan periklanan nasional dan internasional, salah satunya InterVisa yang dianggap sebagai perintis periklanan modern di Indonesia.










Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Minggu, 03 November 2013

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN IKLAN - Dasar-Dasar Periklanan

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • PERIKLANAN DAN DUNIA KONSUMSI: SEBUAH PENGANTAR


          Iklan-iklan kian lama kian melingkupi kita dalam sebuah dunia yang mesti ditafsirkan; dunia signifikansi. Keadaan sekitar lingkungan urban kita sendiri mengambil suatu bentuk simbolik; objek-objek yang tercabut dari tempat-tempat lazim mereka dalam kehidupan fisik kita, dari konteks material mereka, mengambil makna-makna simbolik baru pada berbagai papan iklan dan poster dimana mereka tidak lagi menjadi benda-benda, tetapi menjadi tanda-tanda. Adalah sebagian fungsi 'imajiner' dari iklan-iklan untuk mencoba menggabungkan keduanya sedemikian rupa sehingga tanda-tanda ini menjadi benda-benda.

                Dalam amatan Williamson (2007), ketika mengodekan dunia material di sekitar kita dengan cara ini, iklan-iklan menciptakan semesta puzzle - semesta yang tidak bisa kita masuki tanpa 'membaca dan menafsirkan'; semesta yang menuntut kita untuk berhenti dan mengerjakan suatu 'solusi'; semesta dimana kita harus 'memperoleh' lelucon dan kelakar Guinness yang paling akhir. Sebagaimana digambarkan Levi-Strauss, bagi cara berpikir kesukuan(tribal mind), dunia natural tertutup dengan tanda-tanda yang harus dibaca dan dimaknai. Kini, semesta semantik yang disediakan dunia natural ini digantikan oleh suatu sistem simbolik; sistem yang ditahbiskan dengan status "natural".

SEKILAS SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERIKLANAN
          Kapankah iklan itu bermula? Sesungguhnya banyak versi untuk menjelaskannya, bergantung pada pemahaman kita tentang apa yang disebut iklan itu. Namun, seperti kata Supriadi-penulis buku ini-menengok sejarah ibarat membuka sebuah lembaran tentang alur cerita yang membentuk masa kini. Ia juga memaparkan bagaimana iklan muncul dan berkembang di Inggris, Prancis, Amerika, dan tentu saja, juga di Indonesia.

            Jika kita coba telusuri jauh ke belakang, maka materi periklanan pertama dalam peradaban manusia adalah sejumlah besar tanda yang dipasang diatas pintu toko di kota-kota Timur Tengah Zaman kuno. Sejak 3000 SM, masyarakat Babilonia menggunakan tanda-tanda demikian untuk mengiklankan toko-toko mereka sendiri. Bangsa Yunani dan Romawi kuno juga menggantungkan tanda diluar toko mereka. Karena hanya sedikit orang yang dapat membaca, pedagang masa itu menggunakan lambang visual yang mudah dikenali dan diukir pada kayu, keramik, atau toko untuk dipakai sebagai tanda. Disepanjang sejarah, poster dan tanda gambar di pasar dan kuil, sebenarnya telah menjadi media populer untuk menyebarluaskan informasi dan untuk mempromosikan barter serta penjualan barang dan jasa. Hadirnya mesin cetak di abad ke 15 juga telah melahirkan bentuk baru dalam beriklan, yang dikenal dengan nama selebaran. Selebaran ini tampaknya lebih menguntungkan dibanding poster atau tanda karena bisa direproduksi dan didistribusikan kepada banyak orang, baik yang tempat tinggalnya dekat maupun jauh.

           Dari paparan tersebut, kita bisa memperoleh sebuah gambaran bahwa sebelum ditemukannya mesin cetak, iklan sudah dikenal peradaban manusia dalam bentuk pesan berantai. Pesan berantai disampaikan untuk membantu kelancaran jual-beli dalam masyarakat, yang ketika itu mayoritas masih belum mengenal huruf, dengan cara-cara barter. Dunia pemasaran menyebut pesan berantai itu sebagai THE WORD OF MOUTH.
Selanjutnya, bentuk iklan mengalami perkembangan menjadi relief-relief yang diukir pada dinding-dinding. Hal itu dibuktikan dari penggalian puing-puing Herculaneum, yakni ditemukan gambar dinding yang mengumumkan rencana penyelenggaraan pesta pertarungan gladiator. Pada era Julius Caesar, banyak toko-toko di kota besar yang telah memakai tanda dan simbol atau papan nama. Itulah media utama dalam beriklan yang digunakan masyarakat Romawi pada masa itu. Hingga ditemukannya mesin cetak, iklan kerap digunakan untuk kepentingan komersial.

          Pada awal abad 16 dan 17, yang banyak ditampilkan adalah iklan tentang budak belian, kuda, serta produk-produk baru seperti buku dan obat-obatan. Munculnya iklan buku dan obat-obatan menunjukan bahwa orang saait itu sudah memperhatikan pentingnya kesehatan dan pendidikan. Hingga di tahun 1990, sebagian agensi di Amerika menulis iklan untuk klien dan mulai bertanggung jawab atas kampanye periklanan seutuhnya. Pada tahun 1920-an, agensi semacam ini dengan sendirinya telah menjadi perusahaan besar dan terus mengembangkan teknik dan metode abru yang dapat mempengaruhi apa yang disebut 'konsumen , lazimnya'. Di titik sejarah inilah periklanan mulai dianggap, terutama sebagai alat persuasi oleh eksekutif perusahaan. 








Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.