Sabtu, 16 November 2013
KRITIK EKONOMI POLITIK
Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Sumber:
Daftar Pustaka:
IKLAN DAN TRANSFORMASI
Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin
Sumber:
- Buku PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
- Bagian V - Iklan dan Transformasi
Bab ke lima ini menjelaskan peran ilmu pengetahuan
dalam praktek periklanan, berbagai perubahan yang terjadi di seputar praktek
periklanan, perubahan pola konsumsi masyarakat, penyerapan nilai-nilai budaya
dalam kepentingan ekonomi, serta dampak reformasi terhadap wajah pertelevisian
di Indonesia.
KOLABORASI ILMU
Kita sering melihat berbagai iklan dengan cuplikan
indah, warna-warni yang menarik, atau dengan gagasan-gagasan luar biasa yang
terkadang tidak pernah terpikirkan oleh kita, hingga membuat mata terbelalak
dan memori menyerapnya. Keahlian dalam menciptakan ‘karya seni iklan’ tidak
bisa diperoleh tanpa dukungan ilmu pengetahuan.Iklan bukan hanya sekedar
tayangan iklan komersial, iklan merupakan perpaduan atau kolaborasi dari
berbagai ilmu yang tampil menjadi sebuah karya kreatif. Paling tidak ada
beberapa ilmu yang menopang iklan seperti, sosiologi, psikologi dan komunikasi.
Dalam ilmu sosiologi, ada kajian yang paling berguna
di periklanan, salah satunya adalah demografi sosial. Bagi seorang marketer/advertiser,
demografi sangat penting untuk menentukan suatu produk yang hendak dipasarkan.
Produk akan dianalisis terlebih dahulu seperti, siapa sasaran konsumen? Berapa
harga yang akan ditetapkan? Bagaimana cara pemasarannya? Dimana lokasi
penjualannya? Melalui analisis demografi, produsen memiliki informasi yang
dapat dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan menyangkut produknya.
Karena itu, sukses atau tidaknya sebuah iklan bisa dianalisis dari seberapa
serius para pembuat iklan memandang demografi masyarakat. Misalnya, iklan
produk minuman ringan yang mengambil latar kehidupan perkotaan barangkali tidak
akan berdampak signifikan bagi konsumen yang berada di pedesaan.
Indikator kelas sosial juga berguna bagi praktek
periklanan karena tidak jarang perilaku seseorang dalam mengonsumsi sesuatu
sangat dipengaruhi oleh posisi mereka di dalam masyarakat atau pergaulannya.
Penjual atau pengiklan bisa menentukan produk mereka sesuai dengan class-based
market segments, ditambah dengan informasi mengenai penghasilan mereka.
Kategori life-style (studi tentang kepribadian) sangat berguna bagi periklanan. Nilai dan
segmentasi gaya hidup sebagai sebuah perilaku yang memengaruhi seseorang dalam
mengonsumsi produk. Kecenderungan seseorang mengonsumsi produk sangat variatif.
Ada yang mengonsumsi karena merek, kepopuleran produk, produk dianggap paling
unggul, atau karena loyalitas.
Ketika kita berbicara tentang sasaran konsumen, secara
ontologis konsumen pada dasarnya bersifat massa, heterogen, tidak saling
mengenal, dan tersebar dimana-mana. Komunikasi massa memberikan perspektif
tentang bagaimana iklan harus dibuat sebagai bentuk pesan yang sifatnya massal.
Dengan ilmu komunikasi, pesan periklanan diolah melalui berbagai pertimbangan.
Apakah pesan itu akan dikemas secara langsung atau tidak, disampaikan melalui
bahasa verbal atau non verbal, ditransmisikan melalui media cetak atau
elektronik, serta disampaikan kepada komunikan mana yang menjadi konsumennya.
Melalui dukungan ilmu pengetahuan, iklan telah
mengalami transformasi dalam berbagai segi, baik sebuah strategi pemasaran
maupun sebagai sebuah kajian keilmuan.
POLA KONSUMSI
Sebagai sebuah tempat pemasaran massa, pusat
perbelanjaan memperlihatkan pola konsumsi masyarakat yang mengalami
transformasi dari waktu ke waktu. Sebelum munculnya konsep mall atau
departement store, pasar tradisional merupakan sebuah tempat berbelanja dengan
desain sederhana dan tujuan yang sederhana pula. Munculnya konsep mall,
aktivitas berbelanja tidak diposisikan sebagai pola pemenuhan kebutuhan
melainkan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun konsep mall dengan segala
yang mereka tawarkanpada akhirnya mengalami kejenuhan. Ruang-ruang belanja yang
tertutup seperti mall kini mulai digantikan dengan ruang terbuka hijau atau
lebih dikenal dengan sebutan city walk.
Pola konsumsi yang berubah juga terjadi di setiap
mini market. Seperti circle K, indomaret yang berlomba-lomba menjadikan tempat
mereka sebagai rumah kedua yang menyenangkan. Mereka menyediakan meja dan kursi
untuk bersantai bagi konsumennya, siapa lagi kalau bukan remaja sasarannya.
Saat ini transformasi lain dari konsumsi dan
periklanan juga terjadi beriringan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi. Seoran individu bisa mendapatkan barang yang ia inginkan dengan
menggunakan layanan akses cepatseperti, tokobagus.com, berniaga.com, atau
kaskus.com.
INKORPORASI BUDAYA
Secara harfiah, inkorporasi berarti menyatukan,
menggabungkan atau menjadi satu. Makna inkorporasi merujuk pada suatu proses
sosial kelas dominan yang mengambil elemen-elemen kebudayaan kelas subordinat
dan menggunakannya untuk memperkuat status quo. Contoh, aktivitas graffiti atau
coretan dinding. Dalam wacana subkultur, graffiti dipandang sebagai bentuk
kritik, sindiran terhadap kekuasaan yang digores ke tembok-tembok jalanan,
akhirnya graffiti dipandang sebagai
kegiatan seni tanpa esensi perlawanan. Sejalanan dengan musik, mode
pakaian, atau tren populer. Iklan menjadi wahana transformasi bagi berbagai
aspek budaya yang ada. Lambat laun periklanan tidak hanya sebagai media promosi
sebuah produk, lebih dari itu, iklan difungsikan sebagai media konstruksi
budaya melalui gambar-gambar yang mereka tampilkan. Inkorporasi budaya dalam
iklan kemudian tidak lepas dari proses komodifikasi dengan memanfaatkan aspek
budaya itu sendiri.
DARI PANOPTIK MENUJU HIPNOTIK
Pada masa orde baru, paling tidak terdapat dua
wacana yang berkaitan dengan status informasi:
1. Informasi
dijadikan alat pemerintah untuk memetakan kelompok mana yang sejalan dengan
visi kekuasaan dan kelompok mana yang memiliki jalan berbeda.
2. Informasi
yang benar menjadi barang mahal karena saluran media sangat terbatas.
Masyarakat umum menjadikan televisi sebagai media utama dalam memperoleh
informasi, namun tidak tahu pasti apakah informasi yang mereka terima benar
atau tidak.
Sekarang tidak ada lagi cerita tentang keterbatasan
informasi, yang ada adalah pembudakan. Citra media sebagai alat panoptik juga
berubah menjadi alat hipnotik. Sensor tidak lagi dalam bentuk kasar seperti
melarang publikasi, memotong berita, mengganti dengan bahasa yang lebih halus,
tetapi sensor justru terjadi dalam berlimpahnya berita.
Sistem kormesial yang telah diterapkan, mau tidak
mau sumber keuangan media massa harus bertumpu pada seberapa banyak iklan yang
masuk ke kantong media tersebut. Disinilah berbagai komodifikasi diterapkan.
Ragam berita, film, musik, kuis, sinetron, ajang pencarian bakat atau
infotaiment, menghipnotis masyarakat menuju budaya baru yang biasa disebut
budaya populer.
Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Strategi Periklanan
Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin
Sumber:
- Buku PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
- Bagian IV - Strategi Periklanan
Bab keempat ini memaparkan berbagai macam strategi
yang dilakukan iklan, aspek emosional yang dimainkan dalm iklan, strategi budaya yang dilakukan dalam periklanan, dan fungsi iklan dalam membentuk produk
unggulan.
PSIKOLOGI HARAPAN
Rasa tidak puas atas pencapaian, dorongan hidup agar
lebih baik, atau tantangan untuk terus melakukan inovasi menjadi semacam
kekuatan penggerak bagi segala bentuk perkembangan. Harapan tumbuh menjadi
kebutuhan manusia agar dapat tetap bertahan dalam setiap segi kehidupan.
Ekonomi misalnya, dibangun atas harapan meningkatkan kesejahteraan dimana
setiap orang bisa mencapai keuntungan sebesar-besarnya dalam putaran produksi
maupun dalam persaingan pasar. Begitu penting dan emosionalnya sehingga tidak
satu pun manusia bisa mengelaknya. Iklan adalah representasi dari segudang
pengalaman emosional yang pernah manusia alami yang kemudian diterjemahkan ke
dalam bentuk pesan yang tervisualisasi. Coba kita perhatikan berapa banyak
iklan yang mencoba memberikan harapan kepada kita; harapan akan kebahagiaan,
kebanggan maupun kepuasan dikemas dengan berbagai tampilan yang menarik. Karena
periklanan ini berjalan setiap hari, setiap orang yang menyaksikannya secara
tidak sadar menyerap semua bentuk harapan itu ke dalm memorinya dan akhirnya
menjadi dorongan awal dari seluruh keingin yang akan datang.
Gambaran harapan yang ditawarkan iklan sangat erat
kaitannya dengan perilaku dan motivasi seseorang, motivasi itu kemudian
diterjemahkan dalam aktivitas konsumsi. Sebagaimana yang disampaikan Matin Khan
dalam Consumer Behavior and Advertising Management, perilaku konsumen dalam
mengkonsumsi prosuk lebih didorong oleh motivasi laten yang kadang tidak
disadari. Menurutnya konsumen ‘tidak membeli’ produk, Mereka pada dasarnya membeli
sebuah motif pemenuhan atau solusi dari sebuah permasalahan. Misalnya,
seseorang tidak membeli sofa, tetapi membeli kenyamanan; atau sesorang pada
dasarnya tidak membeli kosmetik; tetapi membeli sebuah harapan untuk cantik
atau tampan.
Beberapa indikator yang bisa kita jadikan sebagai
gambaran dimana sebuah iklan dapat sukses, diantaranya:
1. Berisi
sebuah pencapaian atau pemenuhan harapan
2. Dikemas
dengan mengikutsertaan kelas sosial dari golongan tertentu yang biasanya
diwakili seorang artis
3. Memiliki
slogan yang sederhana; namun menarik dan mudah diingat
4. Melibatkan
emosi seperti kebanggaan, persahabatan, atau kesetiaan
Praktek yang dilakukan pembuat iklan adalah
pencarian informasi tentang:
1. Motif
untuk membeli
2. Bagaimana
memformulasikan strategi untuk memenuhi motif-motif tersebut
3. Bagaimana
mereduksi konflik diantara berbagai konflik di antara berbagai motif
Ketika strategi ini sudah ditemukan, upaya
selanjutnya adalah bagaimana menjawab harapan yang ada dalam diri konsumen,
lalu kemudian iklan berusaha mewujudkannya, juga menjawab konflik laten
tersebut dari tidak menjadi ya.
IMING-IMING HADIAH
Agar output dari kegiatan industri berjalan dengan
baik dan tidak terjadi ketimpangan, mau tidak mau harus ada alat yang bisa
merespons semua output tersebut. Dalam kondisi inilah, iklan ditempatkan
sebagai alat respons terhadap output industri dengan jalan mendorong
peningkatan jumlah konsumsi. Bayangkan, jika sebuah produk diciptakan dengan
jumlah yang sangat melimpah, namun pembeli atau konsumsi minim, apa yang akan terjadi?
Paling tidak akan menyebabkan, pertama over production, yakni suatu kondisi
yang menggambarkan krisis dalam putaran produksi dan konsumsi yang diakibatkan
daya beli masyarakat rendah. Kedua gulung tikar, bagi perusahaan yang tidak
bisa mengatasi krisis tersebut. Dalam mengahadapi situasi ini, periklanan
sangat dibutuhkan.
Bagi sebagian perusahaan, beberapa cara mungkin
telah dilakukan seperti pemotongan harga dengan berbagai macam kampanye,
seperti buy one get free one atau potongan harga 40% All item. Selain itu,
metode promosi dalam bentuk sponsorship dan pelayan terpadu juga dilakukan.
Dari sekian banyak pemasaran, iming-iming hadiah juga masih dilakukan dengan
harapan dapat mendongkrak tingkat konsumsi masyarakat terhadap sebuah produk.
Dari berbagai media massa , paling tidak ada
beberapa jenis hadiah yang melibatkan sekian banyak segi emosional masyarakat,
diantaranya:
Kesenangan, bisa kita kategorikan sebagai suatu
kondisi emosional yang diakibatkan oleh faktor-faktor di luar diri manusia. Iklan
biasanya menyentuh sisi kesenangan dengan memberikan hadiah dalam bentuk barang
ataupun uang. Kebanggaan, segi emosional yang muncul karena pencapaian terhadap
suatu keinginan.Hadiah yang ditawarkan iklan tidak lain berupa kesempatan
seseorang, misalnya kesempatan menjadi bintang iklan, artis dsb. Kebahagiaan,
sisi emosional seseorang yang dianggap melekat pada atau tidak dapat dipisahkan
dari dirinya. Hadiah yang ditawarkan iklan dengan sentuhan emosional
kebahagiaan biasanya seperti hadiah paket haji dan umroh, paket liburan dsb.
PENDEKATAN BUDAYA
Keberhasilan iklan dalam memasarkan sebuah produk
bukan hanya karena iklan bisa menawarkan sejumlah harapan dan hadiah, strategi
lain yang dilakukan dalam praktek periklanan adalah menampilkan sebuah representasi
dari nilai-nilai budaya di mana masyarakat itu berada. Pendekatan budaya
membuat sebuah produk semakin dekat dengan masyarakat dengan cara
mengikutsertakan simbol-simbol sebagai representasi dari identitas masyarakat
setempat. Misalnya, dalam masyarakat Indonesia mayoritas muslim , “cap halal”
menjadi bagian yang sangat penting untuk dicantumkan dalam setiap kemasan
produk yang akan dipasarkan.
Perayaan hari besar atau hari raya keagamaan juga
menjadi salah satuarena periklanan bekerja. Sebuah momen di mana keyakinan
menjadi dasar utama, mendorong masyarakat sedapat mungkin bisa membuat hari itu
lebih spesial dibanding hari-hari lain. Karena periklanan menjadi senjata utama
dalam perang perebutan pasar, setiap negara memberlakukan aturan yang
mengontrol peperangan agar tidak menimbulkan korban, baik budaya, religi,
maupun norma yang berlaku dalam maryarakat.
Di negara-negara lain seperti Arab Saudi dan Iran,
peraturan dibuat lebih ketat, yakni melarang perempuan tampil dalam bentuk
iklan apa pun. Sedangkan Malaysia, perempuan boleh tampil sebagai bintang
iklan. Karena norma, ideologi masyarakat dipandang sangat penting sebagai
sebuah strategi periklanan, pengetahuan para kreator iklan tentang budaya
menjadi modal utama.
PRODUK SUPERLATIF
Apa yang harus dilakukan jika sebuah produk sudah
dikenal masyarakat?Apakah masih perlu pemanfaatan iklan?Jawabannya tidak. Iklan
akan selalu dibutuhkan dalam setiap usaha pengusaan pasar. Faktanya ada
beberapa produk yang sudah berhasil menjadi merek terkemuka dan menguasai
pasar, namun tetap memanfaatkan keberadaan iklan. Tujuannya tidak lain untuk
menjadikan merek dagang mereka sebagai produk yang paling unggul atau dengan
istilah lain sebagai produk superlatif.
Misalnya seseorang ketika membeli air kemasan pasti
menyebut Aqua, tetapi penjualnya membeli merek lain. Untuk menjadikan produknya
sebagai unggulan (TOP OF MIND) memerlukan waktu yang sangat lama, iklan pun
harus menampilkan diri dalam tingkat frekuensi yang sangat tinggi atau sesering
mungkin.
*iklan luar ruang, reklame, tembok, billiboard*
Contoh kasus dalam produk superlatif:
Di Indonesia, ketika peraturan sekolah mewajibkan
setiap siswa menggunakan sepatu berwarna hitam, merek sepatu Warrior menjadi
produk yang ‘tanpa saingan’ sangat lama. Anak SD sampai SMA menggunakan merek
sepatu tersebut.Kesuksesan Warrior sebagai produk superlatif pada akhirnya
menjadikan merek dagang itu sebagai influencer bagi merek lain. Jenis sepatu sekolah
kemudian muncul dalam berbagai merek, seperti All star, New Balance, New Era,
Logo atau Bata, tentunya dengan maksud mengambil bagian keuntungan dari
peraturan sekolah yang diterapkan.
Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
JENIS - JENIS IKLAN - DASAR-DASAR PERIKLANAN
Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin
Sumber:
- Buku PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
- Bagian III - Jenis-Jenis Iklan
Bab ketiga ini berisi tentang ragam media yang
digunakan dalam kegiatan periklanan,pengemasan pesan atau informasi yang ingin
disampaikan, relevansi tujuan produk dengan penentuan sasaran iklan.
JENIS IKLAN BERDASARKAN MEDIA
Kini, media pemasangan iklan tidak sebatas di dua
media besar (elektronik dan cetak), tetapi juga sudah masuk ke dalam
media-media lain, seperti internet dan telepon selular (SMS). Secara garis
besar, media iklan dibagi ke dalam dua ragam:
1. Media
cetak, dalam hal ini surat kabar, majalah, brosur, papan iklan atau billiboard
2. Media
elektronik, seperti radio, televisi, film.
Berdasarkan media penyampaiannya secara lebih
spesifik iklan dibagi ke dalam 5 ragam iklan:
·
IKLAN TELEVISI adalah iklan yang
menggunakan seluruh alat serta unsur dalam kegiatan komunikasi dan disampaikan
dalam bentuk audio-visual. Ruang eksplorasi iklan televisi sangat besar, hampir
semua unsur, baik verbal maupun non verbal, mendapat ruang dalam kreasi iklan
televisi.
·
SURAT KABAR dan MAJALAH merupakan media
cetak yang bisa kita kategorikan sebagai kumpulan berbagai media informasi yang
dibuat (diproduksi) serta disampaikan kepada khalayak sasaran (pembaca) melalui
tulisan (cetakan) dan seringkali disertai gambar sehingga dapat dilihat juga.
Selain ragam media cetak iklan juga terdapat majalah khusus iklan yang
berbeda-beda penyebutannya. Ada yang menyebut leaflet, brosur iklan,media promo
dll.
·
IKLAN RADIO, yang menjadi kekuatan
adalah bagaimana pesan iklan tersebut dapat sampai ke telinga pendengar dengan
baik. Seorang scriptwriter iklan radio harus memiliki kemampuan imajinasi yang
lebih agar script iklan yang ia buat tampak begitu hidup, baik dari pemilihan
setting tempat, karakter suara, gaya lisan, maupun pemilihan sound effect
(SFX).
·
INTERNET merupakan gabungan dari komunikasi,
media dan informatika yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses
informasi dengan jumlah tidak terbatas. Sebagai media global, internet tidak
hanya dapat menyajikan informasi tetapi juga dapat menjadi ruang interaksi
sosial bagi masyarakat. Jika dalam media cetak dan elektronik ukuran audiens
dilihat dari banyaknya pembaca, penonton maupun pendengar, dalam internet
audiens diukur dari seberapa banyak jumlah pengunjung ke situs yang disediakan.
·
IKLAN SMS adalah iklan yang memberikan
informasi tentang berbagai hal dari operator kepada pelanggan atau pengguna
jaringan telepon. Jenis atau isi pesan yang ditawarkan sangat beragam mulai
dari layanan tarif murah, bonus telepon dan SMS, download lagu, RBT, lowongan
kerja, hingga pesan-pesan komersial yang menawarkan produk-produk tertentu.
JENIS IKLAN BERDASARKAN ISI PESAN
1. Iklan
komersial
2. Iklan
layanan masyarakat
3. Iklan
politik
Iklan komersial adalah Iklan yang bertujuan
mendukung kampanye suatu produk atau jasa. Tujuannya yakni sebagai media
pemasaran produk hampir sebagian besar iklan yang dimuat di berbagai media
adalah iklan kegiatan promosi, baik untuk memperkenal sebuah produk, mendorong
untuk membeli, meningkatkan konsumen, maupun menanamkan loyalitas konsumen
terhadap sebuah produk.
Iklan layanan masyarakat merupakan iklan
nonkomersial dengan maksud mengajak, mendidik, mengarahkan atau menghimbau
masyarakat sebagai warga negara maupun warga dunia. Komunikan dalam iklan
layanan masyarakat biasanya lembaga-lembaga pemerintah atau lembaga swadaya.
Iklan politik bisa disebuat juga media kampanye yang
bertujuan untuk kepentingan partai politik. Tujuan dari iklan politik sangat
beragam, mulai dari memperkenalkan partai baru, membangun citra partai,
memperkenalkan program kerja partai, hingga memenangkan pemilu. Di Indonesia,
iklan politik lazimnya ramai dilakukan saat berlangsung kampanye terbuka dalam
pilkada maupun pilpres.
JENIS IKLAN BERDASARKAN SASARAN
Setiap produk atau jasa yang dibuat memiliki
segmentasi konsumen yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang menentukan variasi
sasaran iklan berdasarkan siapa konsumen yang sebenarnya. Sasaran iklan
diantaranya, orang tua (rumah tangga), dewasa, remaja dan anak-anak. Sasaran
ini pada akhirnya akan berpengaruh terhadap isi pesan iklan serta ragam media
yang dipilih.
Di dalam keluarga, seorang ayah, ibu, atau anggota
keluarga lainnya, memiliki pengaruh dalam perilaku konsumsi. Mereka memiliki
motif dan kepercayaan masing-masing
berkaitan dengan suatu produk yang akan dikonsumsi. Begitu pula dengan sasarn
orang dewasa, pesan dan tujuan konsumsi produk iklan tersebut disesuaikan
dengan kondisi dan kebutuhan orang dewasa. Sementara itu, iklan remaja
merupakan iklan yang sasaran produk dan jasanya ditujukan bagi remaja. Dalam
usia yang sedang berkembang ini, remaja memiliki gejala psikologis yang khas
sehingga pesan iklan pun dikemas agar dapat merepresentasikan kondisi
psikologis mereka. Anak-anak sebagai salah satu konsumen, juga tidak lepas dari
sasaran iklan produk dan jasa. Selain sebagai konsumen, mereka dijadikan
sebagai aktor dalam periklanan, karena itu keberadaan anak dalam dunia
periklanan sangat diperhatikan, diantaranya:
1. Iklan
tidak boleh menggunakan model anak-anak untuk produk yang tidak layak
dikonsumsi oleh anak-anak
2. Iklan
tidak boleh memperlihatkan anak-anak dalam adegan yang berbahaya, menyesatkan
atau tidak pantas dilakukan oleh anak-anak
3. Iklan
tidak boleh menampilkan anak-anak sebagai penganjur penggunaan suatu produk
yang bukanuntuk anak-anak
4. Iklan
tidak boleh menampilkan adegan yang mengekploitasi daya rengek (pester power)
anak-anak dengan maksud memaksa para orang tua untuk mengabulkan permintaan
anak-anak mereka akan produk terkait.
Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Kamis, 07 November 2013
Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin
Sumber:
- Buku PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
- Bagian II - Segitiga Konglomerasi
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah menempatkan bisnis periklanan sebagai sumber ekonomi yang berlimpah. Konglomerasi pun tumbuh dengan trias ekonomika yang merajai; korporasi multinasional, agen periklanan, dan media massa.
Bab kedua ini, berisi tentang konsep segitiga konglomerasi sebagai pola bisnis yang terbentuk di dalam perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, kebangkitan pasar dalam mendorong tumbuhnya korporasi, sistem ekonomi yang mendukung kepentingan korporasi, sistem kerja yang dijalankan agen periklanan, dan upaya penguasaan dalam bisnis media massa.
KORPORASI MULTINASIONAL
Jika Anda membeli sebuah produk lalu mengamati kemasannya, Anda akan menemukan nama korporasi multinasional di dalamnya. Sebut saja Unilever, korporasi yang produknya lekat denga kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia. Nama lain yang sudah tidak asing di sebagian telingan masyarakat seperti Nestle, Coca-Cola, Nike dll. Kekuatan besar korporasi multinasional sebenarnya muncul sejalan dengan globalisasi dan suatu kondisi yang disebut dengan istilah 'kebangkitan pasar'. Menurut Mikhael Dua dalam bukunya Filsafat Ekonomi, kebangkitan pasar disebabkan oleh beberapa faktor:
- Runtuhnya Uni Soviet, yang secara ideologi memiliki pandangan berbeda dengan Barat (khususnya Amerika), baik dalam bidang politik maupun ekonomi.
- Bangkitnya sebuah peradaban baru yang ditentukan oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.
- Menjamurnya gerakan humanisme akibat ketidakadilan sosial. Ketika sebuah negara tidak bisa memberikan jaminan keamanan dan keadilan kepada masyarakatnya, seluruh kekecewaan masyarakat akan ditumpahkan kepada negara. Di sinilah paham laissez faire (paham yang identik dengan ajaran liberalisme dan pasar bebas) mengambil alih peran negara dalam kevakumannya.
AGEN PERIKLANAN
Etika PAriwara Indonesia (Tata Krama dan Tata Cara Priklanan Indonesia) yang dikeluarkan Dewan Perwakilan Indonesia (2007) menyebutkan bahwa agen atau perusahaan periklanan merupakan suatu organisasi usaha yang memiliki keahlian untuk merancang, mengoordinasi, mengelola, dan atau memajukan merek, pesan, dan atau media komunikasi pemasaran untuk dan atas nama pengiklan dengan memperoleh imbalan atas layanannya tersebut.
Kekuatan iklan sebagai salah satu budaya dominan tidak lepas dari keberadaan agen periklanan. Mereka adalah pionir, garis depan, atau panglima yang diperlukan dalam memenangkan perang di dalam arena ekonomi serta dalam era komunikasi dan informasi. Karena itu agen periklanan tumbuh menjadi sektor bisnis yang sangat menggiurkan juga menjadi sebuah organisasi konglomerasi.
Mereka memiliki sistem yang beragam, sebagaimana yang disampaikan Turow (2009: 600-603) dengan dimensi-dimensi kerja agen periklanan dibawah ini:
- Business-to-business agencies us consumer agency
- General agencies us speciality agency
- Traditional agency us direct-marketing agencies
- Agency networks us stand-alone firms
Untuk kemudahan dalam praktek kerja agen periklanan terbagi dua: general agencies dan speciality agency. General agencies yaitu agen periklanan yang menerima seluruh pesanan iklan dari berbagai jenis produk atau jasa apapun. Kalau speciality agency hanya mau menerima pembuatan iklan produk tertentu. Sedangkan berdasarkan cara pemasarannya, agen periklanan dibagi menjadi traditional agency dan direct-marketing agencies. Traditional agency aalah praktek agen periklanan yang hanya sebatas pembuatan iklan untuk kemudian bisa tampil di media massa agar dapat mendorong konsumen membeli produk yang diiklankan. Kalau direct-marketing agencies, mereka tidak hanya sebatas jasa pembuat iklan, tetapi juga jasa pengelolaan kotak suara konsumen, kontak telepon pemasaran, TV komersial, serta upaya-upaya lain yang bisa mendorong konsumen untuk membeli barang yang diiklankan pada saat itu secara langsung.
Ada agen periklanan yang hanya memiliki satu kantor di satu kota disebut stand-alone firms, ada juga agen periklanan yang memiliki jaringan sangat luas dengan kantor cabang di berbagai kota dan negara disebut agency networks system. Agency networks inilah yang berpeluang mengembangkan agen periklanan menjadi sebuah konglomerasi seperti beberapa agen periklanan multinasional.
Hasil kerja agen periklanan adalah informasi. Untuk mentransmisikan informasi tersebut, agen periklanan melakukannya dengan dua cara:
- memasang iklan di media massa seperti televisi, koran, majalah atau radio
- menjual langsung kepada konsumen dengan sales promotion girl sebagai salah satu prajurit mereka
Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Senin, 04 November 2013
Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin
Sumber:
- Buku PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
- Bagian I - Konsep Periklanan - Sejarah Periklanan
Bab ini memaparkan sejarah periklanan di beberapa negara: Inggris, Prancis, Amerika, dan Indonesia; situasi sosial yang mendorong terbentuknya periklanan; peranan revolusi industri dalam memacu roda perekonomian; keterkaitan antara perekonomian, gaya hidup dengan periklanan; dan keberadaan pers dalam mendukung kegiatan periklanan.
INGGRIS
Membicarakan sejarah periklanan di Inggris tidak akan lepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di sana. Keberadaan newssheet sebagai cikal bakal surat kabar di dunia juga tidak lepas dari revolusi industri, terutama revolusi percetakan. Newssheet pada saat itu sangat dibutuhkan kalangan saudagar sebagai pendukung aktivitas ekonomi mereka. Namun dalam perkembangannya, dijadikan sebagai sarana untuk mencari uang.
Pada awalnya istilah advertising sendiri pada awalnya bukan kegiatan penjualan produk/jasa seperti sekarang. Dahulu, kegiatan jurnalistik yang dikelola saudagar berfokus pada informasi yang berkenaan dengan perdagangan dan perekonomian. Informasi-informasi seperti perang, bencana, maupun kegiatan lain dianggap sebagai advertising. Artinya advertising memiliki makna hampir sama dengan selingan.
Namun dalam perkembangannya, istilah advertising kemudian berubah menjadi kegiatan periklanan seperti yang kita kenal sekarang. Ia berguma bukan hanya untuk menjual produk atau jasa, melainkan juga untuk membiayai kelangsungan pengelolaan pers.
PRANCIS
Pada umumnya mereka mengetahui bahwa negara yang terletak di Benua Eropa ini memiliki tradisi mode yang sangat maju. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya industri garment (pakaian), perhiasan, maupun kerajinan saat itu. Bisnis periklanan di Prancis pada 1820 pertama kali dikenal dengan sebutan reclame, yang merupakan fenomena dari perkembangan kapitalisme. Pada saat itu, keberadaan periklanan di Prancis masih dianggap hal yang aneh karena kegiatan bisnis secara luas masih dijalankan secara langsung (face to face). Cara penjualan seperti itu semakin lama semakin ditinggalkan. Selain tidak memberikan bayak pilihan, cara tersebut dirasa kurang efektif karena tidak dapat menjual barang secara banyak dan cepat.
Kemudian muncul sistem perdagangan Self Service, yang memberikan kenyamanan bagi konsumen pada lain sisi membuat konsumen merasa awam dengan barang yang begitu banyak (contoh:supermarket). Oleh karena itu, periklanan menjadi sumber informasi utama sebagai referensi awal bagis etiap konsumen, dan keberadaannya pun makin lama makin dibutuhkan. Persaingan antarkorporasi periklanan berjalan cukup ketat.
AMERIKA
Periklanan mulanya dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu menggunakan kertas selembar (pamflet) yang ditempel di setiap ruang kota. Perkembangan periklanan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan dunia pers. Oleh karena itu, iklan dalam bentuk media cetak menjadi bentuk periklanan tertua yang pernah ada. Sekitar tahun 1940-an adalah masa dimana iklan sudah masuk televisi komersial. Sama halnya dengan yang dilakukan radio, periklanan televisi pada awalnya muncul dalam bentuk program. Sejak kemunculan agen periklanan di Amerika, merek dagang, jingle maupun seni periklanan mulai diperkenalkan. Dampak dari kemunculan agen periklanan ini adalah persaingan usaha yang semakin besar serta pertumbuhan pasar yang disertai dengan berbagai kemunculan merek dagang.
Pada lain sisi, pertumbuhan agen periklanan tidak jauh berbeda dengan perusahaan-perusahaan itu sendiri. Di dalam kapitalisme, baik perusahaan maupun agen periklanan, semua bangkit menjadi konglomerasi.
INDONESIA
Sejak runtuhnya rezim orde baru, pertelevisian di Indonesia semakin lama semakin meningkat dan jumlah stasiun televisi swasta pun terus bertambah. Pada masa orde baru saluran informasi hanya dipegang oleh TVRI sehingga pemenuhan informasi bagi masyarakat, terlebih lagi informasi mengenai kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat sangat terbatas. Waktu itu iklan belum menjadi bagian yang sangat dominan dalam pertelevisian di Indonesia. Iklan hanya tersedia di media cetak, radio, dan di ruang terbuka seperti billboard maupun spanduk.
Sejarah periklanan di setiap negaratidak akan lepas dari sejarah kemunculan media massa yang menjadi salurannya. Hal ini berlaku pula di Indonesia di mana media massaterutama surat kabar baru muncul sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19. Selain itu kondisi sosial, ekonomi, politik bagi perkembangan periklanan di Indonesia semakin lama semakin membaik, hingga memasuki masa Orde Baru terutama ketika pemerintah menerapkan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Meski dalam keadaan ekonomi yang masih merangkak, dua undang-undang ini dimaksudkan untuk mendorong perputaran dan persaingan roda ekonomi di Indonesia. Alhasil, berbagai korporasi multinasional pun mulai masuk ke Indonesia dan menjadi pemicu bagi meningkatnya kebutuhan akan periklanan. Dari sana, muncul pula perusahaan-perusahaan periklanan nasional dan internasional, salah satunya InterVisa yang dianggap sebagai perintis periklanan modern di Indonesia.
Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
INGGRIS
Membicarakan sejarah periklanan di Inggris tidak akan lepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di sana. Keberadaan newssheet sebagai cikal bakal surat kabar di dunia juga tidak lepas dari revolusi industri, terutama revolusi percetakan. Newssheet pada saat itu sangat dibutuhkan kalangan saudagar sebagai pendukung aktivitas ekonomi mereka. Namun dalam perkembangannya, dijadikan sebagai sarana untuk mencari uang.
Pada awalnya istilah advertising sendiri pada awalnya bukan kegiatan penjualan produk/jasa seperti sekarang. Dahulu, kegiatan jurnalistik yang dikelola saudagar berfokus pada informasi yang berkenaan dengan perdagangan dan perekonomian. Informasi-informasi seperti perang, bencana, maupun kegiatan lain dianggap sebagai advertising. Artinya advertising memiliki makna hampir sama dengan selingan.
Namun dalam perkembangannya, istilah advertising kemudian berubah menjadi kegiatan periklanan seperti yang kita kenal sekarang. Ia berguma bukan hanya untuk menjual produk atau jasa, melainkan juga untuk membiayai kelangsungan pengelolaan pers.
PRANCIS
Pada umumnya mereka mengetahui bahwa negara yang terletak di Benua Eropa ini memiliki tradisi mode yang sangat maju. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya industri garment (pakaian), perhiasan, maupun kerajinan saat itu. Bisnis periklanan di Prancis pada 1820 pertama kali dikenal dengan sebutan reclame, yang merupakan fenomena dari perkembangan kapitalisme. Pada saat itu, keberadaan periklanan di Prancis masih dianggap hal yang aneh karena kegiatan bisnis secara luas masih dijalankan secara langsung (face to face). Cara penjualan seperti itu semakin lama semakin ditinggalkan. Selain tidak memberikan bayak pilihan, cara tersebut dirasa kurang efektif karena tidak dapat menjual barang secara banyak dan cepat.
Kemudian muncul sistem perdagangan Self Service, yang memberikan kenyamanan bagi konsumen pada lain sisi membuat konsumen merasa awam dengan barang yang begitu banyak (contoh:supermarket). Oleh karena itu, periklanan menjadi sumber informasi utama sebagai referensi awal bagis etiap konsumen, dan keberadaannya pun makin lama makin dibutuhkan. Persaingan antarkorporasi periklanan berjalan cukup ketat.
AMERIKA
Periklanan mulanya dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu menggunakan kertas selembar (pamflet) yang ditempel di setiap ruang kota. Perkembangan periklanan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan dunia pers. Oleh karena itu, iklan dalam bentuk media cetak menjadi bentuk periklanan tertua yang pernah ada. Sekitar tahun 1940-an adalah masa dimana iklan sudah masuk televisi komersial. Sama halnya dengan yang dilakukan radio, periklanan televisi pada awalnya muncul dalam bentuk program. Sejak kemunculan agen periklanan di Amerika, merek dagang, jingle maupun seni periklanan mulai diperkenalkan. Dampak dari kemunculan agen periklanan ini adalah persaingan usaha yang semakin besar serta pertumbuhan pasar yang disertai dengan berbagai kemunculan merek dagang.
Pada lain sisi, pertumbuhan agen periklanan tidak jauh berbeda dengan perusahaan-perusahaan itu sendiri. Di dalam kapitalisme, baik perusahaan maupun agen periklanan, semua bangkit menjadi konglomerasi.
INDONESIA
Sejak runtuhnya rezim orde baru, pertelevisian di Indonesia semakin lama semakin meningkat dan jumlah stasiun televisi swasta pun terus bertambah. Pada masa orde baru saluran informasi hanya dipegang oleh TVRI sehingga pemenuhan informasi bagi masyarakat, terlebih lagi informasi mengenai kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat sangat terbatas. Waktu itu iklan belum menjadi bagian yang sangat dominan dalam pertelevisian di Indonesia. Iklan hanya tersedia di media cetak, radio, dan di ruang terbuka seperti billboard maupun spanduk.
Sejarah periklanan di setiap negaratidak akan lepas dari sejarah kemunculan media massa yang menjadi salurannya. Hal ini berlaku pula di Indonesia di mana media massaterutama surat kabar baru muncul sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19. Selain itu kondisi sosial, ekonomi, politik bagi perkembangan periklanan di Indonesia semakin lama semakin membaik, hingga memasuki masa Orde Baru terutama ketika pemerintah menerapkan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Meski dalam keadaan ekonomi yang masih merangkak, dua undang-undang ini dimaksudkan untuk mendorong perputaran dan persaingan roda ekonomi di Indonesia. Alhasil, berbagai korporasi multinasional pun mulai masuk ke Indonesia dan menjadi pemicu bagi meningkatnya kebutuhan akan periklanan. Dari sana, muncul pula perusahaan-perusahaan periklanan nasional dan internasional, salah satunya InterVisa yang dianggap sebagai perintis periklanan modern di Indonesia.
Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Minggu, 03 November 2013
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN IKLAN - Dasar-Dasar Periklanan
Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin
Sumber:
- Buku PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
- PERIKLANAN DAN DUNIA KONSUMSI: SEBUAH PENGANTAR
Iklan-iklan kian lama kian melingkupi kita dalam sebuah dunia yang mesti ditafsirkan; dunia signifikansi. Keadaan sekitar lingkungan urban kita sendiri mengambil suatu bentuk simbolik; objek-objek yang tercabut dari tempat-tempat lazim mereka dalam kehidupan fisik kita, dari konteks material mereka, mengambil makna-makna simbolik baru pada berbagai papan iklan dan poster dimana mereka tidak lagi menjadi benda-benda, tetapi menjadi tanda-tanda. Adalah sebagian fungsi 'imajiner' dari iklan-iklan untuk mencoba menggabungkan keduanya sedemikian rupa sehingga tanda-tanda ini menjadi benda-benda.
Dalam amatan Williamson (2007), ketika mengodekan dunia material di sekitar kita dengan cara ini, iklan-iklan menciptakan semesta puzzle - semesta yang tidak bisa kita masuki tanpa 'membaca dan menafsirkan'; semesta yang menuntut kita untuk berhenti dan mengerjakan suatu 'solusi'; semesta dimana kita harus 'memperoleh' lelucon dan kelakar Guinness yang paling akhir. Sebagaimana digambarkan Levi-Strauss, bagi cara berpikir kesukuan(tribal mind), dunia natural tertutup dengan tanda-tanda yang harus dibaca dan dimaknai. Kini, semesta semantik yang disediakan dunia natural ini digantikan oleh suatu sistem simbolik; sistem yang ditahbiskan dengan status "natural".
SEKILAS SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERIKLANAN
Kapankah iklan itu bermula? Sesungguhnya banyak versi untuk menjelaskannya, bergantung pada pemahaman kita tentang apa yang disebut iklan itu. Namun, seperti kata Supriadi-penulis buku ini-menengok sejarah ibarat membuka sebuah lembaran tentang alur cerita yang membentuk masa kini. Ia juga memaparkan bagaimana iklan muncul dan berkembang di Inggris, Prancis, Amerika, dan tentu saja, juga di Indonesia.
Jika kita coba telusuri jauh ke belakang, maka materi periklanan pertama dalam peradaban manusia adalah sejumlah besar tanda yang dipasang diatas pintu toko di kota-kota Timur Tengah Zaman kuno. Sejak 3000 SM, masyarakat Babilonia menggunakan tanda-tanda demikian untuk mengiklankan toko-toko mereka sendiri. Bangsa Yunani dan Romawi kuno juga menggantungkan tanda diluar toko mereka. Karena hanya sedikit orang yang dapat membaca, pedagang masa itu menggunakan lambang visual yang mudah dikenali dan diukir pada kayu, keramik, atau toko untuk dipakai sebagai tanda. Disepanjang sejarah, poster dan tanda gambar di pasar dan kuil, sebenarnya telah menjadi media populer untuk menyebarluaskan informasi dan untuk mempromosikan barter serta penjualan barang dan jasa. Hadirnya mesin cetak di abad ke 15 juga telah melahirkan bentuk baru dalam beriklan, yang dikenal dengan nama selebaran. Selebaran ini tampaknya lebih menguntungkan dibanding poster atau tanda karena bisa direproduksi dan didistribusikan kepada banyak orang, baik yang tempat tinggalnya dekat maupun jauh.
Dari paparan tersebut, kita bisa memperoleh sebuah gambaran bahwa sebelum ditemukannya mesin cetak, iklan sudah dikenal peradaban manusia dalam bentuk pesan berantai. Pesan berantai disampaikan untuk membantu kelancaran jual-beli dalam masyarakat, yang ketika itu mayoritas masih belum mengenal huruf, dengan cara-cara barter. Dunia pemasaran menyebut pesan berantai itu sebagai THE WORD OF MOUTH.
Selanjutnya, bentuk iklan mengalami perkembangan menjadi relief-relief yang diukir pada dinding-dinding. Hal itu dibuktikan dari penggalian puing-puing Herculaneum, yakni ditemukan gambar dinding yang mengumumkan rencana penyelenggaraan pesta pertarungan gladiator. Pada era Julius Caesar, banyak toko-toko di kota besar yang telah memakai tanda dan simbol atau papan nama. Itulah media utama dalam beriklan yang digunakan masyarakat Romawi pada masa itu. Hingga ditemukannya mesin cetak, iklan kerap digunakan untuk kepentingan komersial.
Pada awal abad 16 dan 17, yang banyak ditampilkan adalah iklan tentang budak belian, kuda, serta produk-produk baru seperti buku dan obat-obatan. Munculnya iklan buku dan obat-obatan menunjukan bahwa orang saait itu sudah memperhatikan pentingnya kesehatan dan pendidikan. Hingga di tahun 1990, sebagian agensi di Amerika menulis iklan untuk klien dan mulai bertanggung jawab atas kampanye periklanan seutuhnya. Pada tahun 1920-an, agensi semacam ini dengan sendirinya telah menjadi perusahaan besar dan terus mengembangkan teknik dan metode abru yang dapat mempengaruhi apa yang disebut 'konsumen , lazimnya'. Di titik sejarah inilah periklanan mulai dianggap, terutama sebagai alat persuasi oleh eksekutif perusahaan.
Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Langganan:
Postingan (Atom)