Halaman

Senin, 18 November 2013

BE CONTROVERSIAL, BE DIFFERENT, BIG IDEA

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku "Advertising That Sells" oleh Dyah Hasto Palupi & Teguh Sri Prambudi
Summary:
  • Bagian III - Be Controversial, Be Different, Big Idea



Be Controversial, Be different, Big Idea

·         Thought Leader

Kalau Anda tak akan bisa menjadi market leader... Jadilah thought leader. Orang sering keliru bahwa di setiap kategori hanya ada satu pemimpin. Padahal kenyataannya tak harus begitu. Di setiap kategori memang ada satu market leader yang terbesar dan tergemuk. Namun, selalu saja ada pemimpin lain yang dikagumi, yang dipuja, yang paling banyak bikin heboh, dan yang paling banyak dibicarakan. Mereka adalah para – thought leader.
Thought leader = talk leader
Seperti halnya mereka, Dwi Sapta rupanya lebih memilih menjadi thought leader, karena diakuinya langkah menjadi market leader masih harus melintasi jalan yang begitu panjang dan berliku. Bagaimana caranya? Formulanya sederhana: be controversial.Iklan soffell kontroversial karena mengusung pendekatan comparative advertising yang secara telak menohok pemimpin pasar. Agar lebih menggigit, uji tes yang lebih soft juga dilakukan Dwi Sapta dengan menggunakan celebrity endorser, Paramitha Rusady dan Ussy Sulistiowati. Tujuannya sama: membuktikan merek mana yang lebih ampuh mengusir nyamuk. Digambarkan dalam iklan, Ussy meragukan keandalan Soffell. Lalu, Paramitha menganjurkan uji tes di tanagan kanan dan kiri secara benar. Hasilnya, soffell betul-betul lebih andal.

·         Blue Ocean

Iklan kontroversial produksi Dwi Sapta lainnya adalah iklan Adem Sari, saat menggempur jantung pertahanan Cap Kaki Tiga, sang pemimpin pasar, pada pertengahan 1990-an. Adem sari memang punya diferensiasi yang cukup kuat untuk tak sekadar jadi pengekor layaknya pesaing lain, seperti panjang Jiwo atau Cooling plus.
Singkatnya adem sari kontroversial karena, menantang Goliath secara head-to-head dan cerdas menegasikan pesaing dengan blue ocean strategy.
·         Melawan Arus Gaya Soffell
Soffell menjadi kontroversial karena mengganti namanya dari nama yang sangat Indonesia menjadi nama yang berbau asing. Nama yang sangat Indonesia dan merakyat ini penting karena target pasar Soffell adalah menengah-bawah. Bagi kalangan menengah-bawah, nama merek yang down to earth dan sesuai dengan keseharian mereka merupakan faktor reason to buy yang cukup menentukan. Kalau diganti dengan nama yang asing bagi mereka, bisa-bisa mereka emoh membeli.
Iklan sengaja tidak dibikin yang atraktif, cukup mengkomunikasikan pesan yang pendek, sederhana, dan informatif. Dalam iklannya di TV hanya digambarkan stiker saripuspa dikelupas dan berganti menjadi soffell.
·         Berani tampil Beda

Contoh iklan yang berani tampil beda adalah Mixagrip. Pada saat menangani kembali Mixagrip tahun 2000, Dwi Sapta dihadapkan pada kenyataan bahwa produk ini miskin diferensiasi. Komposisinya hampir sama dengan pesaing. Sehingga tak ada unique selling point yang bisa dipakai sebagai senjata untuk memasarkannya.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan membuat aturan superketat: perusahaan obat tidak boleh terang-terangan menyebutkan khasiat dan janji kesembuhan dari serangan flu. Maka, bagi Mixagrip tantangannya adalah, bagaimana bisa bertahan sebagai pemimpin pasar di tengah persaingan obat flu yang hiperkompetitif, tapi miskin diferensiasi.
Menghadapi keterbasan ini, tim kreatif Dwi Sapta kemudian menawarkan konsep iklan yang out of the crowd alias keluar dari kerumunan standar baku iklan obat flu waktu itu. Apa standar baku itu? Umumnya, iklan obat flu waktu itu menggunakan endorser pelawak kondang, antara lain Basuki atau Timbul, karena hampir semua merek obat itu menggunakan pelawak, semua iklan obat flu menjadi generik, terbuka peluang menghasilkan point of differentiation.

·         Big Idea

Coba kita lihat beberapa di antaranya, yang pertama ide iklan “Orang Pintar Minum Tolak Angin”, Ide iklan ini hebat karena sukses mereposisi jamu yang selama puluhan, barangkali malah ratusan tahun dianggap sebagai produk kelas dua, memiliki kualitas medioker; diolah dengan cara tradisional, teknologi tradisional, dan peralatan tradisional, memiliki citra buruk old-fashioned, dipandang tidak higienis; dikonsumsi kalangan bawah tradisional-menjadi produk modern yang memiliki posisi terhormat.


Kehadiran iklan ini telah merevitalisasi Sido muncul dari perusahaan jamu yang tradisional, dengan kinerja penjualan yang biasa-biasa saja, bahkan terancam krisis, menjadi pemimpin pasar yang terhormat dan disegani di negeri ini. Lalu iklan ini merevitalisasi dan memperbarui citra industri jamu secara keseluruhan, dari posisi produsen kelas kambing menjadi sejajar dengan produsen obat dan makanan modern yang lain.

SINGLE MESSAGE, SIMPLE, SEGMENTED, FOCUS TO YOUR TARGET MARKET

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku "Advertising That Sells" oleh Dyah Hasto Palupi & Teguh Sri Prambudi
Summary:
  • Bagian II - Single Message, Simple, Segmented, Focus to Your Target Market




Single Message, Simple, Segmented, Focus to Your Target Market

Dimensi kedua  yaitu konteks. Dari sisi konteks ini kami melihat iklan-iklan Dwi Sapta memiliki ciri khas: selalu mengomunikasikan produk-produk kliennya dengan format: straight forward alias langsung dan menjual produk apa adanya, menggunakan pendekatan single message, simple (tak memakai banyak pernik), lugas, dan selalu fokus pada kebutuhan dan keinginan target pasar. Gaya beriklan seperti inilah yang kemudian membentuk citra bahwa iklan Dwi Sapta adalah iklan yang hard sell.

Nine P’s

Di samping dimensi konten da konteks, Dwi Sapta juga memiliki jurus lain untuk menjadikan iklan-iklannya menjual dan laris manis di pasar. Jurus itu adalah formula yang di Dwi Sapta lebih dikenal sebagai 9P’s
1.      Product, yaitu konsep yang menyangkut produk secara komprehensif: product feature & benefit, product differentiation, product range dsb. Dalam mengaudit produk ini, satu hal yang juga penting adalah menemukan product advantages dan unique selling point yang biasanya menjadi dasar penyusunan pesan iklan.

2.      Price, yaitu konsep harga dari produk yang akan diiklankan. Untuk menganalisis harga, berbagai aspek harga produk diperhitungkan seperti kemungkinan kenaikan harga, strategi harga yang ingin dijalankan, juga bagaimana posisi harga produk dibandingkan dengan harga produk pesaing.
3.      People, yang dimaksud people di sini tak lain adalah pelanggan. Untuk dapat menarget pasar dengan tepat, Dwi Sapta harus melakukan analisis pelanggan yang menyangkut berbagai aspek, seperti kebutuhan-keinginan-harapan, karakteristik dan perilakunya, alas an membeli (reason to buy), serta pola pemakaian produk.
4.      Problem, disini problem mencakup tiga aspek, yaitu customer problem, product problem, dan communications problem. Untuk produk yang diiklankan melenggang sukses di pasar, mau tak mau ketiga problem ini harus diatasi.

5.      Positioning, yaitu bagaimana produk diposisikan secara pas di pasar dan benak konsumen. Positioning merupakan tools yang sangat powerful untuk memenangi benak konsumen dan meraih pangsa pasar.
6.      Promise, yaitu janji yang akan diberikan produk kepada target pasar. Produk yang diiklankan haruslah memiliki janji-janji yang menarik minat pelanggan.
7.      Prove, elemen ini terkait dengan elemen promise. Seperti dikatakan di depan, janji yang diberikan produk harus bisa dipenuhi. Hanya jika janji produk bisa dipenuhi, dengan sendirinya integritas merek (brand integrity) bisa dibangun.
8.      Priority, elemen ini menyangkut time allocation dan resource allocation.
9.      Platform, yaitu konsep yang mengatur media apa saja yang akan dipakai untuk mengkomunikasikan iklan.




Sabtu, 16 November 2013

CREATIVE THAT SELLS, "SELLING, JUALAN, DODOLAN"

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku "Advertising That Sells" oleh Dyah Hasto Palupi & Teguh Sri Prambudi
Summary:
  • Bagian I - Creative that Sells, "Selling, Jualan, Dodolan"




Creative that Sells, “Selling, Jualan, Dodolan”


Ogilvy mengatakan, iklan bukanlah mahakarya seni yang begitu indah tapi berada di menara gading. Ogilvy tidak bangga kalau pengamat iklan-iklan yang ditulisnya mengatakan iklannya sangat indah dan kreatif. Ia akan bangga kalau iklan tersebut dibaca oleh target audiens dan si pembaca terhipnotis untuk membeli produk yang diiklankan. Menurut Ogilvy lagi, kreatif yang oke adalah creative that sells!!!

“SEBAGIAN MEREK YANG AWALNYA TIDAK DIKENAL, TAPI KINI MEMIMPIN PASAR”

Persis seperti yang dikatakan Ogilvy, bagi Dwi Sapta tak ada gunanya iklannya indah dan sangat kreatif, bahkan mengoleksi beragam penghargaan, tetapi produk yang diiklankan tak sedikit pun dilirik konsumen. Membahas konsep kreatif iklan Dwi Sapta yang menjual, menarik sekali penggambaran yang diberikan Samuel Purnomo, salah seorang Creative Director Dwi Sapta. “Orang kreatif itu seperti pemain badminton,” ucapnya. Mengapa? Seoran gpemain badminton boleh memukul shuttlecock sekeras mungkin dan men-smash-nya secepat mungkin asalkan si shuttlecock tidak meleset keluar dari garis tepi lapangan. Seorang kreatif iklan haruslah memiliki “garis lapangan” yang membatasi da menuntunnya dalam merancang iklan. Garis lapangan yang dimaksud tak lain adalah apa saja keinginan dan kemauan klien dan pasar. Maka, orang kreatif yang baik adalah mereka yang mau mendengarkan pasar, menangkap kemauan pasar, dan kemudian menerjemahkan kemauan pasar itu ke dalam konsep iklan yang pas.
Konsep Advertising:

Konten: F & B Advertising
·         Dari sisi konten kami melihat iklan-iklan Dwi Sapta memiliki cirri khas: selalu mengkomunikasikan konten berupa fitur dan manfaat (feature & Benefit) yang menjadi unique selling point produk yang diiklannya. Dari berbagai portofolio produk yang dikelola, tampak bahwa manfaat yang dikomunikasikan di sini sebagian besar merupakan manfaat fungsional (functional benefit).

Memasuki tahun 2000-an Dankos, produsen Fatigon, melihat peluang bahwa tablet multivitamin ini bisa masuk ke pasar yang lukratif, yaitu pasar wanita. Dua pesan penting-target pasar wanita dan manfaat pengurang rasa capek-di atas diwujudkan dengan tayangan iklan di televisi yang melibatkan bintang wanita, yaitu indy barens, tentu saja bersama Ari Wibowo yang selalu mendukung iklan Fatigon. Alur cerita dan konsep iklan sangat kental menonjolkan manfaat produk, dan kemudian mengkomunikasikannya segamblang mungkin, seserdehana mungkin, dan se-straight forward mungkin.

Dimensi kedua konsep iklan hard sell Dwi Sapta adalah konteks. Dari sisi konteks, kami melihat iklan-iklan Dwi Sapta memiliki ciri khas.






INDUSTRIALISME DAN VISI MASKULIN

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian IX - Industrialisme dan Visi Maskulin


Bab kesembilan ini berisi tentang analisis mengenai keberadaan produk minuman berenergi: hubungan antara pria dengan wilayah kerja produktif, tujuan utama kapitalis-industri, kaitan produk minuman berenergi dengan produktivitas kerja, kebugaran dan kejantanan.

TAHAP INDUSTRI GLOBAL

Apa makna atau pesan yang bisa Anda tangkap dari minuman berenergi? Mengapa harus ada minuman berenergi? Sebagian orang mungkin menjawab sebagai ketuhan agar tubuh kita tetap fit atau bugar. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita harus mulai dari berbagai asumsi dasar yang melatarbelakangi kemunculan sebuah produk dalam perkembangan zaman yang kita lalui. Salah satu asumsinya, perkembangan industri yang terus meningkat, berdampak pada tingkat persaingan manusia. Persaingan ini terus memompa masyarakat agar menjadi individu-individu yang kuat dalam ganasnya lingkungan, hingga mencapai titik puncaknya dalam persiangan global.
Revolusi industri menjadi sebuah babak sejarah yang dianggap banyak memberikan perubahan pada tatanan ekonomi politik, sosial, dan budaya yang ada di dunia. Pergerakan industri dan perusahaan secara global juga tidak lepas dari revolusi teknologi komunikasi dan informasi yang terus berlangsung hingga kini.

TUJUAN INDUSTRIALISME

Industri bisa diilustrasikan sebagai ruang yang berada dalam bangunan kapitalisme, atau sistem kerja yang berada di bawah corak produksikapitalis. Untuk memahami tujuan industri global, kita harus berangkat dari beberapa ajaran Karl Marx tentang corak produksi kapitalis, teori nilai-lebih dan kerja, juga proses bagaimana tenaga kerja dimiskinkan oleh sistem tersebut.
Bagaimana caranya perusahaan dan kapitalis memaksimalisasi keuntungan mereka? Jawabannya dengan melakukan pemiskinan atau pemelaratan tenaga kerja melalui waktu kerja lebih dari yang semestinya pekerja lakukan. Contohnya, jika satu buah kemeja diproduksi dalam waktu 2 jam dan pekerja itu bekerja sehari selama 8 jam, 4 kemeja bisa dihasilkan oleh seorang pekerja dalam satu hari. Disini terlihat betapa pentingnya tenaga kerja dalam sistem kapitalisme dan dalam sistem industri yang hingga kini terus berlangsung. Tujuan industrialisme sendiri tidak lain sebagai pengejantawahan dari tujuan kapitalisme, yakni akumulasi kapital atau pelipatgandaan kekayaan.

KEJANTANAN DAN KEBUGARAN

Hingga kini terdapat beberapa produk minuman berenergi dengan berbagai varian beserta iklan-iklannya. Peningkatan persaingan dan pecepatan pertumbuhan menjadi sangat lazim dilakukan pada era globalisasi. Di Indonesia, produk minuman berenergi muncul sudah cukup lama, sebut saja extra joss, bima ener-g, kukubima, M-150, hemaviton dsb. Keberadaan merek-merek tersebut merupakan kosekuensi dari upaya masyarakat maupun pemerintah dalam meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.
Salah satunya iklan extra joss, syarat dengan gender. Mereka mencoba merepresentasikan bagaimana pembagian kerja dalam masyarakat telah ditata sedemikian rupa, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Gender sendiri merupakan atribut yang dilekatkan, baik kepada laki-laki maupun perempuan dalam kehidupan masyarakat. Laki-laki misalnya di identikan dengan kuat, cekatan dan rasional. Sementara perempuan sebaliknya.

Kemudian apa yang dimaksud dengan kejantanan? Yaitu segenap karakteristik, keadaan, atau esensi yang ada pada laki-laki sebagai sebuah kehormatan. Dalam produk minuman berenergi, industrialisme serta visi maskulin ini mendapatkan tempatnya dan kejantanannya mendjadi norma sosial yang patut dipatuhi oleh segenap kaum adam.
Gender dan pembagian kerja kemudian menjadi hal yang tidak dapat dielakkan dalam masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan sudah ditempatkan secara permanen dalam ranah masing-masing. Keberadaan perempuan sebagai tenaga kerja ini justru sangat menguntungkanpihak kapitalis. Terbukanya kesempatan perempuan untuk masuk ke wilayah kerja produktif menjadi keuntungan besar bagi kepentingan ekonomi politik kapitalis. Dengan semangat persamaan hak dan kesempatan kerja bagi kaum perempuan, kapitalis seolah mendapat angin segar. Perempuan kemudian memiliki kedudukan yang sama seperti laki-laki sebagai tenaga kerja yang diberi upah. Iklan minuman berenergi pun mulai menjadikan perempuan sebagai sasaran konsumen produk mereka. Contoh iklan KukuBima Ener-G, menyiratkan pesan bahwa di era-industri, kebugaran tidak hanya menjadi norma bagi kaum laki-laki, tetapi perempuan juga harus tunduk terhadap norma tersebut.

CATATAN: TENTANG TEKNOLOGI

Peningkatan-peningkatan teknologi sebagai sarana produksi dalam berbagai bidang pekerjaan terus ditingkatkan, teknologi informasi diperbaharui, kekuatan teknologi ditambah. Bahkan dalam sebagian pekerjaan, sebagian manusia sudah tergantikan dengan robot-robot. Konsekuensi dari kondisi ini adalah
1.      Teknologi tidak lagi dipandang sebagai alat yang meringankan pekerjaan manusia sebagaimana tujuan penciptaan awal
2.      Waktu luang menjadi barang yang sangat mahal
Kenyataan yang harus diterima manakala teknologi bekerja dengan daya tahan dan produktivitas tinggi, tenaga kerja wajib bekerja dengan daya tahan dan produktivitas yang tinggi pula. Daya tahan dan produktivitas kerja ini ditopang dengan norma kebugaran melalui produk-produk minuman berenergi. 





Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.


TUBUH SEBAGAI ALAT PERIKLANAN

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian VIII - Tubuh sebagai Alat Periklanan


Bab kedelapan akan menjelaskan tentang peran tubuh dalam periklanan, bentuk-bentuk seksualitas dalam periklanan, serta konstruksi sosial atas pemaknaan tubuh.

SEKSUALITAS TUBUH

Tubuh biasa ditampilkan dengan berbagai bentuk dan fungsinya. Mengenai seksualitas tubuh, perlu digarisbawahi bahwa ketertarikan terhadap seksualitas bukan hanya muncul dalam diri pria. Terdapat kesalah yang mengasumsikan bahwa pria tertarik pada seks sementara perempuan tidak. Asumsi ini perlu di kedepankan karena tubuh dan eksploitasi terhadapnya tidak hanya dialami oleh perempuan. Berbagai media telah mengomodifikasi tubuh menjadi objek yang dapat diperjualbelikan dan ‘dinikmati’, sebut saja majalah pria seperti playboy atau FHM.

Perlahan tapi pasti, kemunculan perempuan dalam iklan mulai mendominasi. Tubuh yang ditampilkan dalam iklan dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu konkret dan imajinatif, Secara konkret, tubuh ditampilkan sebagai alat sekaligus sasaran dari produk yang akan dipasarkan. Pengemasan bentuk konkret ini muncul biasanya dalam iklan kosmetik, sabun mandi, shampoo, susu, suplemen dsb. Sedangkan secara imajinatif, tubuh difungsikan sebagai harapan, mimpi atau imajinasi liar agar iklan tampil lebih menarik. Tubuh bukan lagi sebatas alat dan sasaran, melainkan difungsikan pula sebagai ‘pemuasan’ terhadap hasrat laki-laki maupun perempuan. Lihat bagaimana iklan ‘The Axe Effect’ menjadikan perempuan sebagai imajinasi laki-laki.

TIPE SEKSUALITAS DALAM PERIKLANAN

Tom Reichert membagi beberapa tipe seksualitas yang muncul dalam iklan, diantaranya: nudity, sexual behavior, physical attractiveness, sexual referents dan sexual embeds.
Nudity pada dasarnya merupakan gambaran tubuh yang dibungkus dengan pakaian minim atau menggoda. Seperti celana pendek, pakaian minim, bikini dan baju ketat adalah contoh nudity dalam iklan. Model-model iklan dengan jenis busana tersebut dapat membangkitkanpersepsi seksual orang yang melihatnya.

Sexual behavior dapat dimengerti sebagai suatu tindakan yang berkaitan pada perjumpaan dengan hal-hal yang mengarah pada tindakan maupun ciri dari tindakan seksual. Ia biasa ditampilkan dalam iklan secara individual maupun berpasangan (pria dan wanita). Model yang berperan dalam iklan biasanya menunjukan sexual behavior dengan membuat kontak mata dengan pemirsa, menggoda, maupun dengan gerakan atau bahasa tubuh yang provokatif. Bentuk ini bisa ditemukan dalam iklan kontrasepsi, minuman berenergi dsb.
Physical attractiveness atau daya tarik tubuh diartikan sebagai kekuatan daya pikat tubuh yang tampil untuk mendukung kerja periklanan. Model-model perempuan kemudian dijadikan sebagai representasi dari kecantikan tubuh. Bentuk-bentuk daya tarik tubuh biasanya muncul dalam iklan sabun mandi, sampo, pemutih kulit, kosmetik, maupun produk khusus ditujukan bagi perempuan.

Sexual referents merupakan gambar maupun kalimat-kalimat yang mengarah, mendukung, dan membangun pada imajinasi seksual. Sexual referent sangat berbeda dengan nudity dan sexual behavior. Orang hanya mendengar atau melihat kalimat dalam iklan tersebut terdorong pada ‘fantasi’ berupa motif-motif seksual. Tentu informasi seksual ini hanya bisa dipahami oleh orang yang beranjak dewasa. Bentuk-bentuk iklan dengan tipe seksualitas ini jarang ditemui di Indonesia, kecuali dalam majalah-majalah tertentu yang menampilkan iklan produk-produk luar negeri.







Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

RASIONALITAS MODERN DALAM PERIKLANAN

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian VII - Rasionalitas Modern Dalam Periklanan


Bab tujuh ini berisi analisis mengenai berbagai diskursus seputar kemajuan dunia modern, faktor-faktor pendorong kemajuan ilmu pengetahuan, problem kebenaran menyangkut fakta dan informasi, peran kapital dan otoritas dalam praktik periklanan, serta dukungan sains dan teknologi terhadap kemajuan kapitalisme.


TAHAP PERKEMBANGAN PEMIKIRAN

Perkembangan periklanan tidak dapat lepas dari perubahan corak berpikir manusia yang berlangsung terus-menerus. Individu yang menerima informasi melakukan kegiatan mengolah, menganalisis lalu memutuskan, apakah fakta melalui informasi yang ditampilkan oleh iklan dapat dipercaya atau tidak. Pola berpikir ini biasa kita sebut sebagai empirisme. Empirisme adalah doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Selain itu berpikir adalah kerja aktif dan kreatif manusia. Pemikiran manusia sendiri bukan sesuatu yang ajeg semula, ia berjalan melalui perkembangan selama ribuan tahundengan proses belajar secara terus menerus.

Pada tahap teologis, semua fenomena dunia fisik dikaitkan dengan kepercayaan manusia akan keberadaan Tuhan sebagai causa prima. Manusia dianggap awam terhadap apa yang mereka saksikan. Bencana alam atau fenomena fisik lainnya mereka kaitkan dengan kemarahan maupun rencana Tuhan. Sedangkan dalam tahap metafisis, Tuhan maupun dewa dalam mitologi digantikan dengan kekuatan lain yang bersifat adi-kodrati (naturalis). Dua penjelasan tersebut mengenai fenomena alam dianggap tidak memuaskan rasio manusia. Tahap positif-ilmiah menjadi kejayaan pemikiran peradaban Barat dengan hasil yang luar biasa dalam bidang sains dan teknologi. Keduanya muncul sebagai penguasa baru menggantikan kekuasaan lama yang telah dianggap usang. Doktrin usang telah hilang, yang gelap menjadi terang. Dunia Barat menemukan jati dirinya melalui pergerakan rasio secara terus-menerus hingga mencapai puncak kejayaannya.

SAINS SEBAGAI PENGUASA

Yang menjadi penting dalam perkembangan sains bukan hanya kemenangan dalam menyingkirkan mitos-mitos dan kekuasaan rohaniawan. Lebih dari itu, sains telah mendorong perubahan tatanan masyarakat Eropa, baik menyangkut perubahan dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri, lunturnya kekuasaan feodal, bangkitnya semangat kebebasan dan kesetaraan, juga hasrat untuk menemukan dunia baru lewat penjelajahan.

Kemenangan sains adalah kemenangan atas suatu ‘doktrin’ kebenaran. Sebagai metode ilmiah, sains telah menetapkan panduan bagi manusia untuk sampai pada titik kebenaran. Dalam sejarah sains tercatat sekelompok ilmuwan positivis pada abad 19 yang berusaha menancapkan dominasi mereka terhadap seluruh aspek kehidupan. Mereka yakin jika semua disiplin ilmu dibangun dengan dasar ilmiah, cita-cita perubahan akan tercapai dan kehancuran bisa dihindari. Keyakinan mereka termuat dalam ‘manifesto sains’, yang berisi keyakinan-keyakinan bahwa:

1.      Penerapan pendekatan ilmu alam mesti digunakan pula dalam ilmu sosial
2.      Logika hanya berfungsi untuk menelaah pernyataan dan makna dari satu kata
3.      Penolakan terhadap segala bentuk metafisika
Konsekuensi dari manifesto ini adalah semua realitas harus bisa dijelaskan dalam bahasa matematis dan dapat diobservasi.

TAMPILAN SAINS DALAM IKLAN

Otoritas adalah kekuasaan yang dimiliki seseorang karena pengetahuan yang ia punya. Dalam kerangka epistemologi, otoritas juga menjadi salah satu sumber seseorang untuk mendapatkan pengetahuan. Beberapa iklan di Indonesia telah menampilkan apa yang kita sebut pengorganisasian produksi, mulai dari hiruk pikuk kegiatan di laboratorium, mesin-mesin canggih, otomatisasi, robotisasi dsb. Tampilan ini menyiratkan kepada kita bahwa efisiensi kerja, percepatan produksi, persaingan dan akumulasi menjadi sesuatu yang tidak dapat dielakkan dalam dunia modern.

SAINS DAN KAPITALISME

Kapitalisme merupakan pengungkapan kebebasan serta ‘kesadaran’ manusia. Selama perkembangannya, kapitalisme telah membuka jalan bagi kebebasan, terutama kaum budak, untuk melepaskan diri dari hubungan penghambaan. Sains dan teknologi juga merupakan wujud kebebasan dan kesadaran diri manusia. Jika kapitalisme membawa masyarakat lepas dari perbudakan feodal, sains dan taknologi membawa manusia lepas dari hegemoni teologi dan mistik. Istilah ‘industri’ pada awal mulanya sangatb lekat dengan produksi kebutuhan sandang, pangan dan papan, kini sudah familliar disandingkan dengan kata ‘media’ menjadi ‘industri media’. 







Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

KRITIK EKONOMI POLITIK

Nama: Selvi Wijaya (915120054)
Kelas: B (Dasar - dasar Periklanan)
Dosen: Santo Tjhin


Sumber:
  • Buku  PERIKLANAN Perspektif Ekonomi Politik
Summary:
  • Bagian VI - Kritik Ekonomi Politik


Bab enam ini membahas kritik dari beberapa tokoh terhadap kapitalisme: konsep ekonomi politik, konsep dasar basis dan suprastruktur, dan ide pokok ekonomi politik komunikasi.


KARL MARX


Cara produksi yang sedang berjalan dan kita alami sekarang adalah cara produksi kapitalis. Berbeda dengan cara produksi sebelumnya (feodal), kapitalisme tidak dijalankan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Marx membagi realitas kehidupan ke dalam dua bagian, yakni bisnis dan suprastruktur. Basis dianggap  sebagai bagian pokok yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.
Miliband mencoba mengamati kondisi kapitalisme modern saat ini, membagi kelas-kelas tersebut ke dalam tiga grup:


1.      Elite-berkuasa, yaitu segelintir orang yang memiliki kekuatan dalam mngendalikan industri, perusahaan finansial, maupun perdagangan raksasa.
2.      Kelompok profesional yang menopang elite-berkuasa karen akeahlian khusus mereka
3.      Kelas bawah, mereka yang menggantungkan hidup dari kerja upahan, petani, nelayan, maupun pengangguran.


Walaupun demikian, menurut Milliband, pada akhirnya kelas profesional pun akan terpecah ke dalam dua sudut: mereka yang menopang dominasi elite-berkuasa entah melalui politik, hukum, atau alat kekerasan lainnya; dan mereka yang menjadi pembela kelas bawah.


HORKHEIMER & ADORNO


Dalam Dialectic of Enlightenment, Hokheimer dan Adorno juga mengemukakankritiknya terhadap industri massa. Menurut mereka, budaya massa telah menciptakan standarisasi dan serangan komoditas secara besar-besaran. Sebagai sasaran budaya, masyarakat telah diarahkan untuk mengikuti standar-standar massa yang ditampilkan melalui iklan, film, gaya hidup, nilai-nilai, atau visi tentang dunia. Dari sinilah masyarakat kemudian melakukan peniruan (mimesis) terhadap hal-hal yang mereka lihat dalam media.Hokheimer & Adorno melihat perkembangan teknologi dan penguasaan ekonomi ini telah membawa manusia ke dalam persaingan untuk mempertahankan diri – adaptasi manusia dalam persaingan-persaingan kepentingan pribadi. 





Daftar Pustaka:
Supriadi, Yadi. 2013. Periklanan Perspektif Ekonomi Politik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.